JAKARTA, Beritaone.id – Sebagai komoditi primadona yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, sawit harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Hal ini yang disampaikan Andika Putra Ditama, Deputi Direktur Program Agrikultur Hutan dan Tata Guna Lahan di WRI (Word Resources Institute) Indonesia.
Didirikan di Indonesian pada akhir 2014 dengan kantor pusat di Jakarta, WRI Indonesia berafiliasi dengan World Resources Institute, sebuah lembaga kajian lingkungan global berbasis di Washingtong D.C. WRI memiliki jaringan penelitian yang beranggotakan lebih dari 450 tenaga ahli dan staf di lebih dari 50 negara, dengan kantor yang tersebar di Tiongkok, India, Eropa dan Amerika Serikat (AS).
“Di Indonesia, kami telah mengerjakan proyek bersama dengan mitra-mitra kami selama lebih dari 20 tahun, dan WRI Indonesia didirikan untuk membangun keberadaan dalam negeri yang kuat, membuat formal kemitraan yang telah terbentuk, serta memperkuat penelitian kami,” ujar Andika.
WRI Indonesia, lanjut Andika, didirikan dengan nama Yayasan Institut Sumber Daya Dunia, merupakan lembaga kajian independen yang fokus pada pembangunan sosial, ekonomi secara inklusif dan berkelanjutan.
“Pekerjaan kami berfokus pada enam bidang utama; hutan, iklim, energi, kota dan transportasi, tata kelola, dan laut,” kata Andika.
Secara pendekatan, WRI lebih mengaktualisasikan gagasan-gagasan besar ke dalam aksi nyata pada titik temu yang menghubungkan lingkungan dengan peluang ekonomi dan kesejahteraan manusia. Sementara visi WRI, menjadi lembaga penelitian non-profit yang bergerak di persimpangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan tidak murni dan grand social.
“Di Indonesia ada komunitas yang khusus diperhatikan WRI yaitu, FOLU (Food And Land Use Coalition, red) yang berfokus pada dua titik, pertama sawit dan kedua tinder,” kata Andika.
Terkait fokus di bidang sawit, Andika menjelaskan lebih lanjut bahwa langkah nyata WRI adalah membantu untuk merealisasikan dan membantu petani kelapa sawit.
Beberapa kasus yang telah dilakukan antara lain membantu untuk registrasi GPS dengan turun ke lapangan langsung, membantu merealisasikan STDB (Surat Tanda Daftar Budidaya) dan membantu untuk sertifikasi.
“Dalam industri sawit ada segudang masalah dan sangat kompleks, akan tetapi terlalu banyak pihak yang melihat permasalahan ini hanya dari permukaan saja sehingga menimbulkan banyak persepsi yang salah, dan membuat pro dan kontra sawit terus beradu antara benar dan salah dan yang dirugikan pada dasarnya ya petani,” jelas Andika yang kerap turun langsung dan berjumpa dengan petani sawit.
Andika berharap agar ada tempat atau forum diskusi untuk saling membuka narasi untuk tim pro dan kontra sawit, agar dapat kesimpulan atau titik terang yang tidak hanya untuk individunya, tetapi lebih melihat ke petani dan perekonomian masyarakat Indonesia.
Menurut Andika, masyarakat umum pun sebenarnya ingin sekali mendengar narasi dari kedua kubu ini dalam suatu narasi terbuka antara pro dan kontra sawit.
“Agar tidak ada yang mengambil klaim yang begitu ekstrim terhadap sawit dengan kritikan yang negatif bagi satu kubu dan positif bagi satu kubu lagi,” tutup Andika.