• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Kamis, 09 Juli 2026
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
  • Pilihan
  • Terpopuler
  • SawitUpdate
  • Galeri
  • Video
  • Indeks Berita
×
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
Pilihan +INDEKS
  • 01
    ASUS ROG Zephyrus G14: Performa Tinggi dalam Gaming dan Produktivitas
    29 Mei 2024
  • 02
    JMSI Inhu Lakukan Kerja Sama Publikasi dan Advokasi Kemitraan Desa
    01 Mei 2024
  • 03
    Penduduk Kota Geger, Kisah Abu Nawas Mau Terbang
    22 April 2024
  • 04
    Baznas dan Bank Indonesia Bisa Bantu Masyarakat Melunasi Utang Pinjol, Berikut Cara dan Syaratnya
    18 April 2024
  • 05
    36 Kader Golkar Riau Dipanggil DPP Sebagai Calon Di Pilkada 2024, Berikut Nama-namanya
    07 April 2024
  • Home
  • Politik

Catatan; H. Dheni Kurnia

BENARKAH ANIES PENGKHIANAT? (Hingga Darahnya Halal Ditumpahkan)

Redaktur

Ahad, 03 September 2023 18:25:44 WIB
Cetak
BENARKAH ANIES PENGKHIANAT?  (Hingga Darahnya Halal Ditumpahkan)
Anies Rasyid Baswedan

BeritaOne.id - "ANIES  RASYID BASWEDAN (ARB) dituduh sebagai pengkhianat. Dan seorang pengkhianat, halal darahnya untuk ditumpahkan."

Masya Allah. Segitunya ancaman buat Anies. "Ancaman" ini, secara terang-terangan disampaikan Ketua DPD Partai Demokrat (PD) Sumut, M Lokot Nasution, setelah dapat kabar ARB bermanuver dengan Cak Imin (Ketua PKB Muhaimin Iskandar) untuk maju sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden RI ke depan.

Lokot yang geram, diaminkan oleh keberangan yang lainnya. Tentu saja sesama partainya; Demokrat. Bahkan Ketua Majelis Tinggi PD, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengangguk-angguk balam saja mendengar ucapan yang berkonotasi "sadis" tersebut. Seolah membenarkan?

Lokot yang marah tingkat tinggi, kepada wartawan mengatakan, "Di negara ini masih boleh orang salah. Tapi kalau berkhianat darahnya halal ditumpahkan. Ingat itu, negara ini lama dijajah Belanda kerena banyaknya pengkhianat," tegas Lokot.

Ucapan Lokot ini, tentu beda dengan tindakan Said bin Harits Al-Makzhumi yang mendapat perintah dari Rasulullah SAW menumpahkan darah Abdullah bin Khaththal. Awalnya, nama Abdullah adalah Abdul Uzza. Setelah masuk Islam, nama itu diganti  oleh Rasulullah.

Rasulullah SAW sangat sayang pada Abdullah. Karena itu, dia ditugaskan untuk memungut zakat. Satu ketika, Rasulullah mengutusnya sebagai petugas zakat ke salah satu daerah di luar Madinah. Bersama salah seorang sahabat Anshar, yang dulu pernah pula menjadi budak Abdullah Khaththal, mereka pun berangkat.

Dalam perjalanan tugas, mereka  berhenti di suatu tempat. Kemudian dia menyuruh sahabatnya, menyembelih kambing dan memasak untuknya. Setelah itu, Abdullah bin Khaththal tertidur. Tapi ketika ia bangun, dia melihat mantan budaknya tidak menjalankan perintahnya. Dia jadi geram dan berang. Kemudian ia menghukum sahabatnya sampai mati atau melayang nyawanya.

Setelah kejadian itu, Abdullah keluar dari Islam atau murtad dan kembali menjadi musuh Islam. Dan, saat peristiwa Fathu Makkah (penaklukan Mekah), Abdullah bersembunyi di salah satu pojok Ka’bah. Disinilah dia ditemukan oleh Sa’id bin Harits Al-Makhzumi dan Abu Barzah Al-Aslami. Di situ pulalah berlaku hukum Qisas dan pengkhianatan. Setelah mendapat izin, Said bin Harits menebas leher Abdullah dengan pedang. Darah pun tumpah membasahi tanah!

Dalam epos drama "Macbeth" karya William Shakespeare yang ditulis sekitar enam abad lalu, seorang Raja Skotlandia bernama Duncan, dibunuh oleh jenderalnya sendiri yang bernama Macbeth, karena menginginkan tahtanya. Padahal Raja Duncan adalah koalisinya, sahabatnya, bahkan jiwanya sendiri, "Fair is foul, and foul is fair".

Macbeth membunuh sahabatnya, karena ambisi istrinya, Lady Macbeth, yang ingin dia menjadi raja dan istrinya menjadi Ratu Skotlandia. Mereka mengira bahwa satu-satunya jalan menuju tahta raja dan ratu adalah melalui pedang. Darahpun tumpah. Raja mati di dalam kamar kediaman Macbeth.

Anak kandung sang Raja, Macduff, tentu saja marah besar dengan pengkhianatan ini. Begitu juga Banquo (jenderal yang lainnya). Macduff pun bersumpah, bahwa pengkhianatan terhadap ayahandanya harus dibalas dengan darah Jenderal Macbeth. Sumpah Macduff itu, agak-agak mirip dengan "sumpah" Lokot Nasution di Medan yang menyebut, seorang pengkhianat, halal darahnya ditumpahkan.

Benarkah pengkhianatan yang dituduhkan pada ARB itu harus dibayar dengan ditumpahkannya darah?

Entah juga ya!  Saya sendiri merasa, seperti buaya dan katak; Entah iya entah tidak. Karena negara ini negara hukum. Hukum pertumpahan darah sangat berat, apapun masalahnya. Bisa-bisa jatuhnya ke Anirat atau penganiayaan berat. Hukumnya paling tidak bisa lima tahun penjara. Apalagi yang dianiaya itu cacat seumur hidup atau malah meninggal dunia. Repot juga Lae Lokot.

Jika Said bin Harits menumpahkan darah Abdullah bin Khaththal dengan menebas kepalanya, ada aturan di hukum Islam yang menghalalkan tentang itu. Ini namanya Qisas. Yakni hukum berupa perlakuan sama terhadap pelaku sebagaimana ia melakukan tindakan tersebut kepada korban.

Juga, jika Macduff bersumpah akan membunuh dan menghalalkan darah Macbeth serta  istrinya yang berkhianat, karena menikam ayahnya Raja Duncan, juga masih diterima akal. Karena itu terjadi enam ratus tahun yang lalu. Ayahnya dibunuh dan anaknya balas dendam. Kayak cerita-cerita silat di film gitulah.

Nah. Kalau Lokot Nasution nenghalalkan darah ARB, dengan cara apa atau bagaimana? Pakai pedang atau pakai pistol. Atau pakai pecahan botol limun. Gak tahu juga kita ya. Bisa jadi pakai tali plastik. Dijerat lehernya, lalu darah mengalir dari (maaf) seluruh lubang pori-porinya. Wah!

Sebenarnya, yang kayak-kayak gini sudah sering terjadi di dunia politik. Bahkan ada yang lebih spektakuler dari kasus ini, hanya untuk duduk di kursi presiden. Skandal "Watergate" misalnya. Tragedi politik yang paling dahsyat dalam sejarah Amerika Serikat (AS) pada Juni 1972.

Pertengahan Juni itu,  lima pria ditangkap di Markas Besar Komite Nasional Demokrat di hotel dan kompleks perkantoran Watergate, Washington, setelah dua wartawan; Bob Woodward dan Carl Bernstein, mengungkap skandal mata-mata dan sabotase politik besar-besaran di Gedung Putih untuk mengupayakan Richard Nixon terpilih kembali Presiden Amerika.

Ternyata Nixon (Partai Republik) telah melakukan kecurangan, dengan mengumpul ratusan ribu dolar AS dari para relawan, untuk membiayai kampanye rahasia dan mengacaukan strategi lawan politiknya (Partai Demokrat) . Hal seperti ini, jelas dilarang dalam konstitusi Amerika. Kecurangan itu, tidak saja mengenai fakta  korupsi Partai Republik dalam pengumpulan dana pemilihan, tapi juga terbongkarnya daftar rahasia Gedung Putih dari lawan-lawan politiknya melalui penyadapan telepon, fitnah yang disebarkan terhadap calon Presiden dari Partai Demokrat.

Walaupun Nixon terpilih kembali  November 1972 jadi Presiden, mayoritas anggota Demokrat di Senat membentuk komite untuk menyelidiki kampanye Pemilu itu. Hasil pemeriksaan, April 1973, Jaksa Agung AS, Richard Kleindienst, dan dua ajudan presiden Nixon, yang diduga terlibat, mengundurkan diri.

Nixon pun akhirnya menyerah. Dia kemudian menyerahkan sembilan kaset pada 20 Oktober 1973, yang berisi percakapan antara Nixon dengan John Dean, ajudannya, tiga hari setelah pecahnya skandal Watergate. Pembicaraan itu, rata-rata tidak terdengar jelas. Akibatnya, Komite Kehakiman DPR AS memilih tiga alasan pemakzulan Nixon. Pertama  menghalangi penyidikan FBI, kemudian menyalahgunakan kekuasaan, dan yang ketiga menghina Kongres. Untuk menghindari pemakzulan, Nixon lalu mengundurkan diri.

Nixon adalah presiden pertama AS yang mundur dari jabatannya. Dan pada 8 September 1974, pengganti Nixon, Gerald Ford, memberinya pengampunan total atas skandal Watergate. Untung tak ada darah yang ditumpahkan disini. Meski Partai Demokrat, meganggap Nixon dan partainya adalah pengkhianat, tapi akhirnya dia dimaafkan.

#SBY dan Jokowi Juga Pernah#

Sejarah mencatat dan sejumlah media juga hangat dalam pemberitaannya, bahwa SBY ayahnya AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) pernah  juga membuat manuver politik mengejutkan. Kala itu, Presiden Megawati  Soekarnoputri, bertanya mengenai rencana keikutsertaan SBY (sedang menjabat Menkopolkam) apakah dia akan ikut dalam Pilpres 2004. Karena Megawati melihat elektabilitas SBY cukup bagus di mata masyarakat.

Kemudian Megawati,  mengajak Menkopolkam-nya itu mendampinginya sebagai Cawapres. Tapi, menurut catatan seorang  Pengamat Seni dan Politik, Darmawan Sepriyossa, SBY kala itu menolak. Dia menyebut bahwa dirinya tidak berminat atau ikut dalam kontestasi. Belakangan, semua orang Indonesia ternganga --termasuk Megawati-- karena SBY  maju Pilpres 2004, melawan Megawati yang selama ini percaya saja SBY tidak akan maju. Hebatnya lagi, justru SBY yang terpilih jadi Presiden RI, padahal incumbent-nya adalah Megawati. Seperti terpegang bara hangatlah Mbak Ega.

Kata Darmawan, peristiwa itu jadi jurang dan terbuka lebar pada Februari 2021. Keluarga besar PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dibuat panas akibat tayangan ini. Saat itu melalui akun YouTube, mantan Sekjen Partai Demokrat, Marzuki Alie, bercerita bahwa pada 2004 SBY sempat mengajaknya bertemu di hotel. Di sana berlangsung obrolan soal ‘kecolongannya’ yang dialami Megawati.

Kata Marzuki, Pak SBY menyampaikan padanya, “Pak Marzuki, saya akan berpasangan dengan Pak JK (Jusuf Kalla). Ini Bu Mega akan kecolongan dua kali,” kata Marzuki, menirukan perkataan SBY. Dia menambahkan, kecolongan pertama, SBY pindah induk semang, kecolongan kedua, SBY ambil Pak JK. "Itu kalimat PK SBY,” kata Marzuki, seraya mempersilakan pernyataannya dikutip.

Lima tahun kemudian (2009), SBY kembali membuat manuver politik yang membuat koleganya kecewa. Kali ini wakilnya, Wapres Jusuf Kalla. Pasalnya, Kalla yang saat itu berpikir masih akan ‘dipakai’ ternyata ditinggalkan. "Prosesnya juga berlangsung diam-diam," tulis Darmawan.

DetikNews pada Kamis, 14 Mei 2009 menulis, SBY memilih Boediono sebagai Cawapres. Penetapan Boediono sempat menuai kecaman. Karena partai pendukung koalisi yang dibangun PD saat itu seperti PKS, PAN, serta PPP tidak diajak ikut berembuk. PAN saat itu bahkan sempat melayangkan protes, meski kemudian menyatakan memahami jua.

Situasi sempat tegang dan cukup memanas waktu itu. Menurut Pengamat Politik, Tjipta Lesmana,  SBY seorang  takabur dan sombong. “Langkah SBY yang diam-diam memilih Boediono sebagai Cawapres telah melecehkan partai koalisi pendukung. Tindakan itu merupakan sebuah kesombongan dan sikap takabur SBY. Karena SBY seolah-olah sudah menjadi presiden mendatang,” kata Tjipta.

Dia juga mengingatkan ucapan SBY yang secara terbuka pernah menyatakan lima kriteria Cawapres, salah satunya harus berasal dari partai politik. Nyatanya,  SBY justru memilih Boediono yang tidak mewakili unsur Parpol. “Tindakan SBY tersebut bisa dikatakan inkonsisten. Ucapannya berbeda dengan perbuatannya,” sebut Tjipta.

Tetapi SBY kurang mendengar sejumlah kritikan yang diarahkan kepadanya. Bersama Boediono ia terpilih dengan suara meyakinkan, 73.874.562 suara atau 60,80 persen. Sementara pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto memperoleh 32.548.105 suara atau 26,79 persen, dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto meraih 15.081.814 suara atau 12,41 persen.

Darmawan Sepriyossa juga mencatat, lima tahun lalu, Maret 2018, SBY membuka alasan pemilihan JK dan Boediono di masa lalu. Menurut Presiden ke-6 itu, seorang Capres dalam memilih calon Cawapres harus melihat integritas, kapasitas, dan terutama kecocokan. Selain itu, yang perlu dicermati adalah peluang untuk menang. “Jangan keliru memilih pasangan yang salah, kemudian tidak berhasil. Itu yang saya jadikan patokan dulu,” kata SBY dalam video yang diunggah di akun Facebooknya.

Selain SBY, konon, seorang Presiden yang kini masih menjabat, Joko Widodo (Jokowi), pernah pula membuat masyarakat terperangah. Ketika itu yang kena "prank politik" adalah Menkopolkam saat ini, Mahfud MD. Menurut Mahfud kepada masyarakat luas tanpa malu-malu, dia dipanggil Presiden Jokowi, ditawari jadi Cawapres dan disuruh siap-siap untuk deklarasi.

Tentu saja kita tidak tahu apa yang berkecamuk di hati Mahfud MD, saat ditawari Presiden Jokowi sebagai Wakil Presiden. Setelahnya, kita juga gak paham apa isi hati Mahfud MD, ketika tersadar yang dipilih Jokowi sebagai Cawapres bukan dirinya. Tapi Ma'ruf Amin, yang jauh lebih sepuh darinya. Padahal baju putih untuk deklarasi, baru saja selesai dijahit.

Tapi meski SBY dan Jokowi pernah melakukan manuver politik, mirip kasus Anies Baswedan, gak ad


 Editor : Fitri

Tulis Komentar

Berita Lainnya +INDEKS
Politik

Prabowo Diminta Akhiri Kebrutalan Demokrasi Liberal

Sabtu, 03 Januari 2026 - 23:29:47 WIB
Politik

Optimisme Masyarakat ke Purbaya Munculkan Fenomena Makan Tabungan

Jumat, 26 Desember 2025 - 23:10:59 WIB
Politik

Purbaya Puji Perbaikan Bea Cukai, Meski Sempat “Perlu Digebuk Dikit"

Jumat, 12 Desember 2025 - 21:32:08 WIB
Politik

Pelepasan 1,6 Juta Hektar Hutan Era Zulhas Bukan Izin Sawit, tapi Tata Ruang

Sabtu, 06 Desember 2025 - 20:59:02 WIB
Politik

Prabowo-Gibran Hadir di HUT ke-61 Golkar

Jumat, 05 Desember 2025 - 22:44:51 WIB
Politik

Purbaya Tepis Keras Kabar Bersitegang dengan DPR Soal Pajak Baru

Selasa, 02 Desember 2025 - 15:11:09 WIB

Perkebunan Disita Satgas PKH, Komisi IV DPRD Inhu Soroti Nasib Buruh Sawit

15 September 2025
Harga CPO Melonjak Jelang Idulfitri, Ini Pendorongnya
28 Maret 2025
Laba Bersih Emiten Sawit Tembus Rp 825,59 Miliar, Melonjak 82,7%
24 Maret 2025
Terkini +INDEKS
Bhabinkamtibmas Polsek Rengat Barat Intensif Pantau Pekarangan Pangan Bergizi, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional
07 Juli 2026
Tokoh Adat Inhu Angkat Bicara, Penjarah dan Pelaku Kekerasan di Kebun Agrinas Rakit Kulim Harus Dipenjara
04 Juli 2026
Brutal! Dua Pekerja PT Pancawaskita Mitra Agrinas Dikeroyok Gerombolan Nasrun Sitepu Bersenjata Tajam
04 Juli 2026
Kasat Intelkam Baharuddin Resmi Naik Jadi AKP, Total 64 Personel Polres Inhu Terima Kenaikan Pangkat
03 Juli 2026
Ancaman Kerugian Negara Mengintai, Jalan Sungai Rawa Kembali Hancur Diduga Akibat ODOL PT Ekasapta Paramita Energi
03 Juli 2026
Meski Sudah Dilaporkan ke Polisi, Gerombolan Nasrun Sitepu Masih Berlanjut Melakukan Penjarahan TBS Agrina
02 Juli 2026
Inovasi Layanan Perkuat Program JKN, Akses Kesehatan Masyarakat Kian Mudah
02 Juli 2026
19 Personel Berprestasi Diganjar Penghargaan di Hari Bhayangkara ke-80 Polres Inhu
02 Juli 2026
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Inhu Bacakan Amanat Presiden: Polri Harus Profesional, Humanis, dan Adaptif
01 Juli 2026
Zakat Pegawai PLN Jadi Penggerak Usaha Mikro, YBM PLN Hadirkan Modal Usaha dan Gerobak Cahaya
30 Juni 2026
Terpopuler +INDEKS
  • 01
    Bhabinkamtibmas Polsek Rengat Barat Intensif Pantau Pekarangan Pangan Bergizi, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional
    Dibaca: 404 Kali
  • 02
    Tokoh Adat Inhu Angkat Bicara, Penjarah dan Pelaku Kekerasan di Kebun Agrinas Rakit Kulim Harus Dipenjara
    Dibaca: 315 Kali
  • 03
    Brutal! Dua Pekerja PT Pancawaskita Mitra Agrinas Dikeroyok Gerombolan Nasrun Sitepu Bersenjata Tajam
    Dibaca: 330 Kali
  • 04
    Kasat Intelkam Baharuddin Resmi Naik Jadi AKP, Total 64 Personel Polres Inhu Terima Kenaikan Pangkat
    Dibaca: 344 Kali
  • 05
    Ancaman Kerugian Negara Mengintai, Jalan Sungai Rawa Kembali Hancur Diduga Akibat ODOL PT Ekasapta Paramita Energi
    Dibaca: 330 Kali
  • 06
    Meski Sudah Dilaporkan ke Polisi, Gerombolan Nasrun Sitepu Masih Berlanjut Melakukan Penjarahan TBS Agrina
    Dibaca: 456 Kali
  • 07
    Inovasi Layanan Perkuat Program JKN, Akses Kesehatan Masyarakat Kian Mudah
    Dibaca: 448 Kali


Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

© 2021 BeritaOne.id