• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Senin, 24 Agustus 2026
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
  • Pilihan
  • Terpopuler
  • SawitUpdate
  • Galeri
  • Video
  • Indeks Berita
×
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
Pilihan +INDEKS
  • 01
    ASUS ROG Zephyrus G14: Performa Tinggi dalam Gaming dan Produktivitas
    29 Mei 2024
  • 02
    JMSI Inhu Lakukan Kerja Sama Publikasi dan Advokasi Kemitraan Desa
    01 Mei 2024
  • 03
    Penduduk Kota Geger, Kisah Abu Nawas Mau Terbang
    22 April 2024
  • 04
    Baznas dan Bank Indonesia Bisa Bantu Masyarakat Melunasi Utang Pinjol, Berikut Cara dan Syaratnya
    18 April 2024
  • 05
    36 Kader Golkar Riau Dipanggil DPP Sebagai Calon Di Pilkada 2024, Berikut Nama-namanya
    07 April 2024
  • Home
  • Nasional

Ibu Pertiwi sedang Bersusah Hati: Ekspor Pasir Laut, Fakta Kerakusan dan Kerusakan

Redaktur

Selasa, 27 Juni 2023 10:44:50 WIB
Cetak
Ibu Pertiwi sedang Bersusah Hati: Ekspor Pasir Laut, Fakta Kerakusan dan Kerusakan
Ilustrasi

Penulis: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI), Menulis dari Tempat Nelayan dan Pedagang Pengering Ikan, Kepulauan Seribu.

BeritaOne.id - Pagi subuh, menuju masjid Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Terhitung keempat kali masuk pulau seribu selama 15 (lima Belas) di DKI Jakarta ini. Perubahan tentu ada. Pada tahun 2009 dan 2010 reklamasi belum ada. Wisatawan banyak berkunjung. Pasca 2012 - 2013 reklamasi merambah wilayah tersebut. Laut pun terasa tak indah seperti dulu. Banyak hal yang dilihat dan amati. Terutama reklamasi yang dilakukan taipan - taipan dan oligarki rakus.

Atas refleksi itu, saya mencoba ingat keadaan dengan membaca Lirik lagu Ibu Pertiwi. Lagu nasional kebanggaan hati. Tentu lagu itu mengingat nasionalisme pejuang - pejuang kemerdekaan kembalikan tanah - tanah yang kuasai para bedebah penjajah.

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Tak habis pikir dengan bangsa ini. Hadiah Tuhan sebuah kemerdekaan hanya tertoreh dalam lidah "kata merdeka." Ujung lidah dalam ucapan hanya bersilat. Tapi belum mengenang dalam sanubarinya betapa susahnya bangsa ini bangkit untuk mencapai esensi kemerdekaan.

Tanah yang dikuasai asing dari 350 tahun lalu. Tak kembali begitu saja. Rakyat harus berjuang kembali. Reforma agraria (Land Reform) sebatas ucapan janji reformasi. Setiba rezim mafia membawa angin segar untuk mengesahkan tanah - tanah rakyat. Sertifikat pun membelah seluruh piranti harta, keluarga dan komunikasi dalam lingkungan masyarakat.

Bayangkan saja, janji Land Reform itu membawa malapetaka bagi keluarga saya sendiri sebagai contoh. Kedua orangtua terampas harta kesayangan: warisan. Dirampas haknya oleh keponakan sendiri yang mensertifikat sebagian tanah pekarangan rumah kedua orangtua di Tarano, Sumbawa sana. Proses sertifikat berkomplotan antara mafia tanah, pemerintah, dan kepala desa serta aparat kepolisian yang membackup mafia tanah.

Begitu merintih kedua orangtua hingga sekarang. Anak-anaknya seperti kami diminta menghadap pengadilan untuk menggugat. Padahal bukan kami yang merampas hak orang lain. Lalu kami yang diperhadapkan ke pengadilan. Sungguh rezim mafia sertifikat ini sangat zalim kepada rakyatnya. Mungkin saja terjadi pada orang lain. Kasus seperti ini sangat banyak.

Begitu pun, rintihan keluh kesah nelayan seluruh Indonesia, bahkan se-nusantara menyoroti atas kebijakan PP 26 tahun 2023 tentang tata kelola sedimentasi yang membungkus ekspor pasir laut. Hutannya terjual, dikuasai sebagian oligarki dan asing sekitar 30% tanah Indonesia. Lautan tak luput dari penghisapan dan pengerukan.

Kita bandingkan Reklamasi Jakarta, hanya beberapa hektar saja. Namun, tetap bentangkan arus air sungai ke laut yang membuat Jakarta bisa banjir. Karena airnya dihadang oleh reklamasi. Sebaliknya Pasir Laut yang dihisap dan dikeruk dengan misi ekspektasi ekspor untuk mendapatkan untung sesaat yang disebabkan kerakusan sebagian besar elit pejabat yang diprediksi pada masa depan nanti terjadi kerusakan yang meruntuhkan kedaulatan negeri ini.

Kita bayangkan saja, andaikata benar pasir laut yang akan dikeruk seluas 24 miliar meter kubik yang dikatakan sedimentasi laut, untuk reklamasi, publik bisa membandingkan dengan reklamasi teluk Jakarta dan pulau lainnya. Bila potensi sedimentasi laut 24 miliar kubik itu dieksploitasi, rintihan ibu Pertiwi yang kini dapat dirasakan, bahwa isi perut bumi Pertiwi Indonesia untuk membangun negara lain.

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangs

Menurut Ahmad Nurhidayat (2023) jika melihat ke belakang bahwa reklamasi Teluk Jakarta terdiri dari 17 pulau dengan total luasnya 5.176 ha dengan rata-rata kedalaman laut yang diuruk 7,5 meter dibutuhkan pasir 5.176 ha  x 10.000 meter persegi x 7,5 = 388.200.000 meter kubik. Jika potensi sedimentasi pasir laut sebesar 24 miliar kubik dan reklamasi Teluk Jakarta seluas 5.176 Ha membutuhkan pasir sebanyak 388.200.000 kubik, maka potensi sedimentasi pasir laut dapat membangun sebanyak hampir 62 kali luas reklamasi Teluk Jakarta dengan perhitungan 24 miliar meter kubik dibagi 388,2 juta meter kubik menghasilkan 61,82.

Sungguh ajaib kebijakan ini, padahal KKP kampanye berbusa - busa program ekonomi biru. Prioritas lingkungan. Tetapi sebatas itu saja. Malah sebaliknya, demi investor dan kepentingan pengusaha, KKP menjoroki konsepnya sendiri. Membuang ke tong sampah kampanye ekonomi biru demi menolong kantong para oligarki perusak lingkungan.

Ibu Pertiwi suatu ketika sadar, bahwa aktivitas pengerukan pasir laut, percepat hilangnya pulau-pulau kecil di sekitar wilayah zonasi, apalagi berbatasan langsung dengan Singapura maupun Malaysia. Tambah, persulit nasib nelayan yang tak lagi mampu mencari ikan diakibatkan biota laut di dasarnya sudah rusak akan adanya aktivitas pengerukan. Semua tempat penambangan pasir, mengalami masa suram dan dampak langsung yang merugikan, sampai saat ini kerusakan itu belum bisa dikembalikan secara baik. Akibat kerakusan para elit negara ini.


 Editor : Fitri

Tulis Komentar

Berita Lainnya +INDEKS
Nasional

PLN All Out Kawal Listrik HUT ke-81 RI, Sambil Percepat Pemulihan Gempa Flores

Ahad, 16 Agustus 2026 - 08:07:39 WIB
Nasional

Kementerian PU di Bawah Menteri Dody Hanggodo Genjot Sumur Bor Antisipasi Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 19:22:00 WIB
Nasional

Ketua Umum JMSI: Soal ‘Londo Ireng’ Jangan Salah Mengerti

Rabu, 29 Juli 2026 - 13:05:12 WIB
Nasional

Teguh Santosa: Media Punya Kekuatan Besar Redam Konflik dan Kedepankan Narasi Perdamaian

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:40:00 WIB
Nasional

Permudah Akses JKN di Wilayah Terpencil, BPJS Kesehatan Hadirkan LANURI Serentak di 558 Titik Indonesia

Senin, 13 Juli 2026 - 12:42:26 WIB
Nasional

Inovasi Layanan Perkuat Program JKN, Akses Kesehatan Masyarakat Kian Mudah

Kamis, 02 Juli 2026 - 15:51:01 WIB

Perkebunan Disita Satgas PKH, Komisi IV DPRD Inhu Soroti Nasib Buruh Sawit

15 September 2025
Harga CPO Melonjak Jelang Idulfitri, Ini Pendorongnya
28 Maret 2025
Laba Bersih Emiten Sawit Tembus Rp 825,59 Miliar, Melonjak 82,7%
24 Maret 2025
Terkini +INDEKS
Kementerian PU Kebut Perbaikan Infrastruktur Terdampak Bencana dari Sumatera hingga NTT
23 Agustus 2026
Peduli Akses Warga, PT PAS Mitra Agrinas Kembali Perbaiki Jalan Desa Danau Rambai
22 Agustus 2026
Rumah Tinggal Disulap Jadi Markas Narkoba, Nana Ditangkap Polsek Rengat Barat
22 Agustus 2026
Presiden RI Anugerahkan Satyalencana Kepariwisataan ke 2 Penggerak Desa Sejahtera Astra
21 Agustus 2026
Terseret Dua Kasus Korupsi, Wamen PU Diana Kusumastuti Diminta Segera Diperiksa
20 Agustus 2026
CERI Pertanyakan Harga Identik Sembilan Peserta Tender Cipta Karya Era Wamen PU Diana
19 Agustus 2026
Dua Kali Pengungkapan, Polsek Pasir Penyu Bekuk Tiga Wanita Diduga Pengedar Ekstasi
19 Agustus 2026
PT Tirta Sari Surya Salurkan Beasiswa untuk Anak Karyawan pada Peringatan HUT RI ke-81
18 Agustus 2026
Sambut HUT ke-81 RI, PLN Tebar Diskon 50% Tambah Daya Lewat PLN Mobile
18 Agustus 2026
HUT ke-70 Astra: Ini Filosofi di Balik Logo Barunya
18 Agustus 2026
Terpopuler +INDEKS
  • 01
    Rumah Tinggal Disulap Jadi Markas Narkoba, Nana Ditangkap Polsek Rengat Barat
    Dibaca: 472 Kali
  • 02
    Terseret Dua Kasus Korupsi, Wamen PU Diana Kusumastuti Diminta Segera Diperiksa
    Dibaca: 249 Kali
  • 03
    CERI Pertanyakan Harga Identik Sembilan Peserta Tender Cipta Karya Era Wamen PU Diana
    Dibaca: 250 Kali
  • 04
    Dua Kali Pengungkapan, Polsek Pasir Penyu Bekuk Tiga Wanita Diduga Pengedar Ekstasi
    Dibaca: 435 Kali
  • 05
    PT Tirta Sari Surya Salurkan Beasiswa untuk Anak Karyawan pada Peringatan HUT RI ke-81
    Dibaca: 314 Kali
  • 06
    Sambut HUT ke-81 RI, PLN Tebar Diskon 50% Tambah Daya Lewat PLN Mobile
    Dibaca: 347 Kali
  • 07
    HUT ke-70 Astra: Ini Filosofi di Balik Logo Barunya
    Dibaca: 381 Kali


Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

© 2021 BeritaOne.id