• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Ahad, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
  • Pilihan
  • Terpopuler
  • SawitUpdate
  • Galeri
  • Video
  • Indeks Berita
×
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
Pilihan +INDEKS
  • 01
    ASUS ROG Zephyrus G14: Performa Tinggi dalam Gaming dan Produktivitas
    29 Mei 2024
  • 02
    JMSI Inhu Lakukan Kerja Sama Publikasi dan Advokasi Kemitraan Desa
    01 Mei 2024
  • 03
    Penduduk Kota Geger, Kisah Abu Nawas Mau Terbang
    22 April 2024
  • 04
    Baznas dan Bank Indonesia Bisa Bantu Masyarakat Melunasi Utang Pinjol, Berikut Cara dan Syaratnya
    18 April 2024
  • 05
    36 Kader Golkar Riau Dipanggil DPP Sebagai Calon Di Pilkada 2024, Berikut Nama-namanya
    07 April 2024
  • Home
  • Intermezzo

Ketika Pendidikan Karakter Menghadapi Tantangan: Dapatkah Hypnoteaching Menjadi Solusi?

Ramdana Yudha

Kamis, 09 Juli 2026 17:18:49 WIB
Cetak
Ketika Pendidikan Karakter Menghadapi Tantangan:  Dapatkah Hypnoteaching Menjadi Solusi?
Sepada Asmarika Kadir (foto: Istimewa)

Ketika Pendidikan Karakter Menghadapi Tantangan: 
Dapatkah Hypnoteaching Menjadi Solusi?

Oleh : Sepada Asmarika Kadir (Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning)
    
BeritaOne.id - Masalah moral merupakan masalah yang banyak mendapat perhatian dari berbagai pihak sekarang ini, terutama bagi para pendidik, ulama, pemuka Masyarakat dan pra orangtua. Proses demoralisasi terjadi dan terus berlangsung di Tengah kehidupan masyarakat kita. Proses demoralisasi ditandai dengan semakin meningkatnya perilaku yang menyimpang dari etika, norma-norma, hukum, sosial dan agama. Penerapan nilai-nilai luhur seperti sikap sopan santun, rasa kasih sayang terhadap sesama dan rasa hormat terhadap orangtua atau guru perlahan memudar. Hal ini mengindikasikan bahwa Pendidikan belum secara optimal dalam memainkan peran pembangunan karakter. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah pendekatan pendidikan karakter yang selama ini diterapkan sudah menyentuh akar permasalahan, atau justru perlu ditinjau kembali dari aspek yang sering luput dari perhatian, yaitu cara guru berkomunikasi dengan peserta didik?

Pendidikan karakter dikatakan sebagai cara untuk menanamkan nilai melalui pemberian sanksi, pembiasaan sikap serta penerapan aturan. Pendekatan semacam ini penting dalam dunia pendidikan untuk membangun aturan dan menjelaskan batasan perilaku. Pentingnya pemahaman dan penghayatan terhadap nilai yang mendasari pendidikan karakter ini agar peserta didik patuh bukan hanya karena takut terhadap hukuman semata, melainkan terbentuknya kesadaran instrinsik yang tumbuh lewat pengalaman belajar, refleksi serta aktifnya peserta didik dalam proses pendidikan.

Pendapat tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Thomas Lickona bahwa pendidikan karakter tidak hanya mencakup aspek moral knowing (pengetahuan tentang nilai), mealinkan juga moral feeling (perasaan terhadap nilai) dan moral action (perilaku nyata yang mencerminkan nilai tersebut). Artinya peserta didik tidak cukup hanya mengetahui bahwa disiplin itu penting, tetapi juga perlu memiliki kesadaran dan kemauan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, proses pendidikan harus mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan perilaku secara bersamaan.

Di sinilah komunikasi guru memiliki peran yang sangat strategis. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga figur yang setiap hari berinteraksi dengan peserta didik. Cara guru berbicara, memberikan arahan, menegur, maupun memberikan apresiasi akan memengaruhi cara peserta didik memahami dirinya dan lingkungannya. Sayangnya, dalam praktik pendidikan masih sering ditemukan komunikasi yang berorientasi pada kesalahan. Kalimat seperti “kamu malas”, “kamu tidak disiplin”, atau “kamu selalu membuat masalah” mungkin dimaksudkan sebagai bentuk koreksi, tetapi dalam jangka panjang dapat membentuk citra diri negatif pada peserta didik.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Lev Vygotsky. Menurut Vygotsky, perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan bahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana pembentukan cara berpikir dan memahami realitas. Dengan demikian, kata-kata yang disampaikan guru memiliki pengaruh yang lebih besar daripada sekadar instruksi sesaat. Bahasa dapat membangun keyakinan diri, motivasi, dan bahkan membentuk pola perilaku peserta didik.

Berdasarkan pemahaman tersebut, pendekatan hypnoteaching menjadi menarik untuk dipertimbangkan sebagai salah satu strategi dalam pendidikan karakter. Hypnoteaching merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan komunikasi positif, sugesti konstruktif, dan penciptaan suasana belajar yang nyaman untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik. Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat, hypnoteaching bukanlah praktik mengendalikan pikiran peserta didik. Pendekatan ini lebih menekankan pada kemampuan guru memilih kata, membangun hubungan emosional yang positif, dan menumbuhkan motivasi dari dalam diri peserta didik.
Dalam konteks pendidikan karakter, hypnoteaching menawarkan cara yang lebih persuasif dibandingkan pendekatan yang hanya mengandalkan perintah dan larangan. Misalnya, daripada mengatakan “jangan ribut”, guru dapat menyampaikan “Bapak/Ibu yakin kalian mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman.” Daripada mengatakan “kamu tidak bertanggung jawab”, guru dapat mengatakan “Saya percaya kamu mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik.” Perubahan bahasa tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Peserta didik tidak hanya menerima instruksi, melainkan juga memperoleh penguatan positif yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kesadaran diri.
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, pendekatan ini juga sejalan dengan teori humanistik yang dikembangkan oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers. Teori humanistik menekankan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang apabila berada dalam lingkungan yang mendukung, menghargai, dan memberikan rasa aman secara psikologis. Guru yang menggunakan komunikasi positif pada dasarnya sedang menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik berkembang secara optimal, baik secara akademik maupun karakter.

Meski demikian, hypnoteaching tidak dapat dipandang sebagai solusi tunggal terhadap seluruh persoalan pendidikan karakter. Keberhasilan pembentukan karakter tetap memerlukan keteladanan guru, budaya sekolah yang positif, dukungan keluarga, serta konsistensi dalam penerapan nilai-nilai pendidikan. Komunikasi yang baik akan kehilangan maknanya apabila tidak diikuti oleh perilaku nyata yang dapat dicontoh oleh peserta didik. Oleh karena itu, hypnoteaching sebaiknya dipahami sebagai bagian dari strategi pendidikan yang lebih luas, bukan sebagai metode instan yang menjanjikan perubahan secara cepat.

Pada akhirnya, tantangan pendidikan karakter pada masa kini menuntut guru untuk tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memahami bagaimana membangun kesadaran peserta didik melalui komunikasi yang efektif. Di tengah semakin kompleksnya tantangan pendidikan, pendekatan yang mengedepankan penghargaan, motivasi, dan komunikasi positif menjadi semakin relevan. Oleh karena itu, hypnoteaching layak dipertimbangkan sebagai salah satu strategi untuk memperkuat pendidikan karakter. Sebab, sebelum peserta didik belajar dari apa yang diajarkan guru, mereka terlebih dahulu belajar dari cara guru memperlakukan dan berbicara kepada mereka. Dengan kata-kata yang membangun, pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas, tetapi juga manusia yang berkarakter.**


 Editor : Tim / Redaksi

Tulis Komentar

Berita Lainnya +INDEKS
Intermezzo

SustainaBlue Catat Capaian Penting, Dorong Inovasi Ekonomi Biru Berkelanjutan di Asia Tenggara

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:27:33 WIB
Intermezzo

Rawat Jalan dan Kurangi Debu, PT PAS Mitra Agrinas Beri Manfaat bagi Warga Danau Rambai

Sabtu, 08 Agustus 2026 - 20:43:09 WIB
Intermezzo

Setelah Jalan Sungai Rawa Viral, Warga Siak Mulai Berani Protes Kerusakan Infrastruktur

Senin, 03 Agustus 2026 - 12:08:29 WIB
Intermezzo

Drama Perebutan Kebun Hutan di Inhu, Pekerja PT SAL Bertahan di Mes

Kamis, 07 Mei 2026 - 14:27:35 WIB
Intermezzo

Suasana Akrab Polres Inhil dan JMSI Inhil di Buka Puasa Bersama: Sinergi Makin Erat, Informasi Makin Tepat

Senin, 16 Maret 2026 - 21:59:39 WIB
SMA N 1 Rengat Barat Juara 1

Kejari Inhu Gelar Lomba Debat dan Yel-yel Anti Korupsi Peringati Hakordia 2025

Senin, 15 Desember 2025 - 19:58:08 WIB

Perkebunan Disita Satgas PKH, Komisi IV DPRD Inhu Soroti Nasib Buruh Sawit

15 September 2025
Harga CPO Melonjak Jelang Idulfitri, Ini Pendorongnya
28 Maret 2025
Laba Bersih Emiten Sawit Tembus Rp 825,59 Miliar, Melonjak 82,7%
24 Maret 2025
Terkini +INDEKS
Jadi Saksi Pernikahan Putri Ketua JMSI Riau, UAS Sampaikan Nasihat Rumah Tangga kepada Mempelai
10 Oktober 2026
SustainaBlue Catat Capaian Penting, Dorong Inovasi Ekonomi Biru Berkelanjutan di Asia Tenggara
10 Oktober 2026
Masa Depan Anak Jadi Perhatian, Agrinas Palma Nusantara Santuni 110 Anak di Rohul
09 Oktober 2026
Ribuan Anggota ASPANJI Siap Berkompetensi dalam Pengadaan Jasa di Kemenkes RI
09 Oktober 2026
PT Inecda Bantu Pembangunan Sumur Bor untuk Atasi Kesulitan Air Bersih Warga Desa Talang Sungai Parit
09 Oktober 2026
Dheni Kurnia: Hari Ini Kita Pulang Kampung, Kantor JMSI Riau Resmi Ditempati
09 Oktober 2026
Bicara di Komite 4 PBB, Teguh Santosa Ungkap Kemajuan Pembangunan di Sahara Maroko
08 Oktober 2026
Brigjen Pol Rony Samtana Jabat Kapolda Sumsel, Rianto Sampaikan Ucapan Selamat
08 Oktober 2026
LBH Soroti Kewajiban Eks PT SAL atas 469 Hektare Kawasan Hutan
07 Oktober 2026
Polsek Kuala Cenaku Dukung Ketahanan Pangan Nasional melalui Budidaya Tanaman Cabai
07 Oktober 2026
Terpopuler +INDEKS
  • 01
    Dheni Kurnia: Hari Ini Kita Pulang Kampung, Kantor JMSI Riau Resmi Ditempati
    Dibaca: 216 Kali
  • 02
    LBH Soroti Kewajiban Eks PT SAL atas 469 Hektare Kawasan Hutan
    Dibaca: 314 Kali
  • 03
    Polsek Kuala Cenaku Dukung Ketahanan Pangan Nasional melalui Budidaya Tanaman Cabai
    Dibaca: 320 Kali
  • 04
    Pererat Hubungan dengan Insan Pers, Kapolres Inhu Komitmen Bangun Komunikasi Terbuka
    Dibaca: 527 Kali
  • 05
    Kapolsek Kuala Cenaku IPTU Dahniel Dorong Warga Kembangkan Budidaya Pare Dukung Ketahanan Pangan
    Dibaca: 315 Kali
  • 06
    Perkuat Ketahanan Pangan, Polsek Kuala Cenaku Panen Jagung Pipil Hibrida 800 Kg
    Dibaca: 435 Kali
  • 07
    Hari Kesaktian Pancasila 2026, Polres Inhu Teguhkan Semangat Persatuan dan Pengabdian
    Dibaca: 536 Kali


Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

© 2021 BeritaOne.id