Kanal

Rupiah Menuju 16.000 per USD, Ini Sederet Dampaknya ke Ekonomi Indonesia

Jakarta, BeritaOne.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kali ini, tercatat nilai tukar rupiah mencapai Rp 15.725 per dolar AS. Rupiah pun berpotensi terus melemah hingga menembus 16.000 per USD.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah akan berdampak negatif pada kinerja pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, seperti industri farmasi atau industri petrokimia.

"Sektor-sektor yang kami perkirakan akan terdampak dari adanya pelemahan rupiah yakni sektor yang mengandalkan bahan baku impor seperti Makanan dan Minuman, terutama yang banyak bahan baku impor seperti Gandum, Gula, dan Kedelai, lalu sektor Farmasi, Elektronik dan Barang Elektrikal, dan Tekstil," kata Josua, Kamis (12/10/2023).

Menurutnya, selain berdampak terhadap industri, pelemahan Rupiah juga berpotensi mendorong tekanan inflasi pangan berlanjut, terutama bila pemerintah mendorong impor-impor pangan strategis.

"Hal ini jelas akan berdampak negatif pada daya beli dan tingkat permintaan masyarakat," ujarnya.

Selain itu, impor minyak juga akan lebih mahal, sehingga harga bahan bakar non-subsidi akan meningkat pula yang juga berujung pada menurunnya daya beli dan tingkat permintaan masyarakat.

Di sisi lain, pelaku usaha yang bergantung pada ekspor justru berpeluang mendapatkan manfaat dari pelemahan kurs Rupiah ini, terutama bagi ekspor barang manufaktur. Namun, di tengah pelemahan ekonomi dunia, kemungkinan kinerja ekspor masih akan menghadapi tantangan yang cukup berat.

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER