• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Kamis, 09 Juli 2026
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
  • Pilihan
  • Terpopuler
  • SawitUpdate
  • Galeri
  • Video
  • Indeks Berita
×
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
Pilihan +INDEKS
  • 01
    ASUS ROG Zephyrus G14: Performa Tinggi dalam Gaming dan Produktivitas
    29 Mei 2024
  • 02
    JMSI Inhu Lakukan Kerja Sama Publikasi dan Advokasi Kemitraan Desa
    01 Mei 2024
  • 03
    Penduduk Kota Geger, Kisah Abu Nawas Mau Terbang
    22 April 2024
  • 04
    Baznas dan Bank Indonesia Bisa Bantu Masyarakat Melunasi Utang Pinjol, Berikut Cara dan Syaratnya
    18 April 2024
  • 05
    36 Kader Golkar Riau Dipanggil DPP Sebagai Calon Di Pilkada 2024, Berikut Nama-namanya
    07 April 2024
  • Home
  • Nasional

Catatan H. Dheni Kurnia

TAK AKAN MELAYU TERBERAK DI CELANA (Rempang Malang Rempang Terbuang)

Redaktur

Kamis, 07 September 2023 06:59:40 WIB
Cetak
TAK AKAN MELAYU  TERBERAK DI CELANA (Rempang Malang Rempang Terbuang)

BeritaOne.id - DEMONSTRASI besar-besaran terjadi di Batam akhir Agustus lalu. Dikatakan besar, karena hampir 4 ribu orang turun ke jalan menolak investasi dari China. Sejauh ini, tak pernah ada demo sedahsyat itu di Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Demo digelar hampir oleh seluruh warga Pulau Rempang, Galang, Bulang dan simpatisan anak Melayu Kepri  di depan Gedung Badan Pengusahaan (BP) Batam. Demo berakhir rusuh, tegang dan sengit. Adu argumentasi, adu data dan adu sejarah mewarnai debat siang terik itu.

Batu dan botol beterbangan di depan gedung yang dijaga ketat TNI dan Polri. Seperti punya sayap, salah satu lemparan, hinggap di bibir Komandan Kodim (Dandim) 0316 Batam Letkol Inf Galih Bramantyo. Diapun mengaduh menahan sakit.

Tapi karena Galih seorang komandan dan perwira TNI, dia tidak marah. Malah dengan sabar dia bilang; "Baru kali ini dalam karir saya terkena batu. Tapi gak apa-apa. Saya hanya minta kesabaran Bapak dan Ibu. Kami di sini semuanya sabar Pak. Kita sama-sama menjalankan tugas, saya minta jangan ada yang anarkis. Saya minta sekali lagi tidak ada yang lempar-lempar," kata Galih Bramantyo.

Tapi masyarakat sudah kadung marah. Mereka tak lagi suka mendengar. Imbauan itu macam masuk kiri, keluar kanan. Mereka terus saja main lempar batu, kayu, air mineral, sepatu dan sandal. Bahkan pagar besi Gedung BP, jebol dirusak massa. Kesabaran pihak keamanan benar-benar diuji hari itu. Meski sempat adu mulut sangat panjang, unjukrasa kembali teratur.

Masyarakat Rempang dan Galang mengaku, sudah gerah dengan pemerintah dan penguasa. Mereka telah bermohon berkali-kali agar kampung mereka tidak digusur. Tapi tak ada yang mau mendengar. Mau mengadu kepada siapa. Mau melapor kepada siapa. Semuanya orang-orang dari pemerintahan yang sah. "Jalan terakhir ya kami unjukrasalah," kata Hazrin, salah seorang demonstran.

Hari itu, pukul 09.00 pagi, massa sudah memadati Kantor BP Batam. Jumlahnya, bertambah terus hingga siang hari. Jalanan macet dan lalu-lintas lumpuh. Mereka mulai berorasi secara bergantian. Intinya, mereka meminta pemerintah membatalkan niat membangun pabrik kaca raksasa yang dibuat di kampung mereka.

Dalam orasi disampaikan, investasi di Pulau Rempang itu, mengakibatkan warga kampung tua dan situs sejarah terancam punah. Karena itu, ribuan massa yang tidak saja dari Pulau Rempang, Kecamatan Galang, tapi juga dari aliansi Pemuda Melayu se-Provinsi Kepri, tak bisa lagi menahan amarah. "Kami tak bisa diam lagi. Kami menolak relokasi. Karena wilayah yang kami tinggali saat ini adalah tanah adat. Kamipun sudah turun-temurun tinggal di sini" kata Syamsuddin, seorang orator.

Selagi teman-temannya berorasi, sebagian pendemo mulai memanjat pagar Gedung BP  dan terus mendesak untuk masuk. Tentu saja tindakan mereka mendapat hambatan dari para petugas. Seketika suasana menjadi panas. Dan, melayanglah semua yang bisa diterbangkan. Batu bersilewaran, botol plastik berisi (maaf) air kencing, juga ikut melayang-layang.

Menurut Syamsuddin, kesabaran masyarakat memang dah memuncak. Karena sebelumnya atau pada 13 Agustus 2023, mereka sudah berbicara dengan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia,  saat berkunjung ke Kantor Kecamatan Galang di Kelurahan Sembulang. Ketika itu mereka dengan tegas mengatakan, tidak mau digusur dan mohon mempertimbangkan kembali keinginan pemerintah.

Mereka, kata Syamsuddin, bukan melarang orang luar berinvestasi. Bukan pula menghalangi niat pemerintah mambangun Kepri. "Silahkan saja. Kami tetap mendukung. Tapi kampung tua kami jangan diusik, karena memiliki sejarah budaya yang panjang. Kepri ini kan luas. Bangunlah di tempat yang tak mengganggu pelestarian budaya dan sejarah," ujar Syamsuddin.

Bahlil Lahadalia ketika itu, merespons permintaan warga. Dia menyampaikan, aspirasi masyarakat tersebut akan dibicarakan kembali dalam rapat yang akan dilaksanakan dengan pihak-pihak terkait. Kata Pak Menteri Bahlil, akan dirapatkan lagi. "Akan kita dipertimbangkan," tambah Syamsuddin menirukan ucapan menteri.

Namun beberapa hari setelah itu, mereka mendapat "kejutan" dari Pemerintah Daerah (Pemda) dan BP Batam. Pemerintah menyampaikan, bahwa pembangunan pabrik kaca dan solar panel terbesar di Indonesia ini, segera dibangun oleh Xinyi Grup dari China dengan nilai investasi sebesar 11,6 miliar USD atau setara Rp174 triliun.

Beberapa hari setelahnya, Menteri Bahlil Lahadalia menegaskan, investasi tersebut akan tetap dilaksanakan dan diperkirakan menyerap banyak tenaga kerja, termasuk anak tempatan. Akan ada sekitar 35.000 lowongan kerja baru di Pulau Rempang.

"Investasi ini betul-betul akan memakai tenaga kerja kurang lebih sekitar 35 ribu orang. Karena ini adalah hilirisasi pasir kuarsa dan silika yang salah satu akan kita lakukan di Rempang. Pelaksananya adalah  Xinyi Group yang merupakan perusahaan dari Xinyi Glass dan Xinyi Solar.  Xinyi adalah perusahaan multinasional yang berbasis di Hong Kong dan menjadi produsen kaca terbesar di dunia," tegas Bahlil.

Dia juga menjelaskan, pabrik ini akan menjadi yang terbesar nomor dua di dunia setelah China, dan terbesar nomor satu di luar Tiongkok. Hasilnya nanti, difokuskan untuk ekspor, karena pasar utamanya adalah pasar internasional. Produknya digunakan dalam sektor otomotif, konstruksi dan energi.

Mendengar ini, tentu saja masyarakat tersengat getir. Ternyata pertemuan dengan Bahlil hanya sekedar basa dan basi. Bahkan, Pemerintah Kepri dan BP Batam mereka nilai sengaja menutup mata dari samping. Pemda sepertinya memakai kacamata kuda yang melihat lurus-lurus saja. Akibat pembangunan itu, melenyapkan bentuk keberpihakan dan kepedulian kepada sejarah dan masyarakat.

Masyarakat pun kasak-kusuk. Segala bentuk protes disampaikan ke berbagai pihak. Surat menyurat juga berkelayapan kian kemari mencari perlindungan dan perhatian. Tapi tak ada yang menghasilkan. Rempang yang malang tetap akan dihancurkan untuk pabrik. Asa masyakarat terbuang dalam limbah yang paling kotor. Karena itulah kemudian terjadi demo besar-besaran. Dengan dukungan etnis Melayu yang bersimpati, mereka bersumpah akan melakukan demonstrasi berkali-kali lagi.

Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, menyebut, masalah pembangunan Rempang ini, sudah disosialisasikan sejak April 2023, melalui media massa, media sosial, siaran pers resmi, hingga dibentuk tim yang langsung datang untuk melakukan sosialiasi ke masyarakat sampai saat ini. Jadi tidak benar jika mereka tidak menanggapi keluhan masyarakat. Bahkan tanah masyarakat yang terkena pembangunan akan diganti rugi dengan wajar. Mereka pun akan dibangunkan pemukiman yang layak.

Ia juga mengatakan proyek ini ditindaklanjuti secara serius, hati-hati dan selalu membuka ruang bagi masyarakat Rempang untuk berdialog dan berdiskusi. Makanya dia membantah keras tudingan kelompok masyarakat sipil bahwa sosialisasi dilakukan secara tidak transparan.

Tapi apapun itu, warga Rempang sampai titik darah terakhir, tetap akan menolak relokasi dan penggusuran kampung tua yang ada di wilayah itu. Kalau toh akan dibangun juga, mereka minta 16 kampung tua tersebut tidak diapa-apakan. Kampung itu sudah menjadi kampung adat yang menjadi permukiman warga asli yang diyakini telah bermukim di Pulau Rempang  sejak tahun 1834. Dalam masalah inilah mereka bertikai dan tak bisa menerima masukan dari Ketua BP Batam, Muhammad Rudi.

#Prajurit Kesultanan Riau-Lingga#

Menjawab tentang pertikaian ini, Budayawan Melayu, Prof Dr. Dato' Abdul Malik M.Pd menyebut, warga Rempang memang orang Melayu yang berwatak keras dan masih memegang adat resam. "Penduduk asli Rempang, Galang dan Bulang (kini masuk wilayah Kota Batam) adalah keturunan para prajurit Kesultanan Riau-Lingga yang sudah eksis sejak 1720 masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I," katanya.

Menurut Dato' Malik, pada Perang Riau I (1782-1784) mereka menjadi prajurit Raja Haji Fisabilillah. Dan, dalam Perang Riau II (1784–1787) mereka adalah  prajurit Sultan Mahmud Riayat Syah. Ketika Sultan Mahmud Riayat Syah berhijrah ke Daik-Lingga pada 1787, Rempang-Galang dan Bulang dijadikan basis pertahanan terbesar Kesultanan Riau-Lingga. Pemimpinnya Engku Muda Muhammad dan Panglima Raman yang ditunjuk oleh Sultan Mahmud.

Malik menambahkan, berdasarkan catatan sejarah, pasukan Belanda dan Inggris saja tak berani memasuki wilayah Kesultanan Riau-Lingga. Anak-cucu merekalah sekarang yang mendiami Rempang-Galang secara turun-temurun. "Pada Perang Riau itu nenek-moyang mereka disebut Pasukan Pertikaman Kesultanan," ujarnya lagi.

Sejarah juga mencatat, Prajurit Pulau Rempang dan Galang ini, tertulis dalam "Tuhfat al-Nafis" karya Raja Ali Haji. Buku ini merupakan buku pintar Melayu yang dimiliki Masyarakat Riau dan Kepri. Oleh karena itu, merupakan hal wajar, bila ada masyarakat Rempang-Galang bersumpah sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan kampungnya, karena mereka adalah keturunan pasukan Sultan Riau-Lingga.

Di sisi lain Budayawan Riau, HA Aris Abeba mengatakan, demo dan protes masyarakat itu, karena secara psikologis mereka benar-benar merasa tertekan. Sebagai orang asli Melayu, mental mereka terbeban dengan pembangunan yang dirancang pemerintah. Satu sisi mereka sangat menjunjung dan bangga dengan adat budaya, tapi sisi lainnya mereka diwajibkan menurut aturan dan kesewenangan yang ditetapkan penguasa.

"Pergolakan batin inilah yang membuat Galang, Rempang, Bulang dan Melayu lainnya bergolak. Karena mereka hanya meminta sedikit, tapi yang sedikit itupun tidak bisa mereka dapatkan, apalagi dipertahankan," ujar Aris yang menyebut pula nenek moyangnya, berasal dari Daek Lingga, Kepri.

Orang Melayu, sambungnya, orang yang suka menerima, cinta damai dan tidak akan berak (buang air besar) di dalam celana. Karena celana itu dia bersihkan, dicuci dan dipakai setiap saat. Dia tidak akan mengotori  celananya sendiri dengan najis. Atau sama artinya dengan orang yang membuang tinjanya di meja makan.

Orang Melayu pada dasarnya, tidak akan mempermalukan dirinya, adatnya, kebudayaan dan bangsanya. Apalagi merusak orang lain. Orang Melayu bisa diajak beriya dan sekata. Ke gunung sama mendaki, ke lurah sama menurun. Menerima titah, daulat tuanku. Asal dia jangan dikhianati dan tahu cara mendekatinya.

"Mungkin Pemerintah Kepri BP Batam atau Bahlil Lahadalia itu tak tahu cara-cara orang Melayu," kata Aris sambil tersenyum. Entahlah! ***

H. Dheni Kurnia; Wartawan, Karateka (Pemegang Sabuk Hitam Dan V) dan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI)


 Editor : Fitri

Tulis Komentar

Berita Lainnya +INDEKS
Nasional

Inovasi Layanan Perkuat Program JKN, Akses Kesehatan Masyarakat Kian Mudah

Kamis, 02 Juli 2026 - 15:51:01 WIB
Nasional

Didukung Alumni Se-Indonesia, Andar Amin Harahap Pimpin IKA SMAN 2 PSP

Senin, 27 April 2026 - 10:42:52 WIB
Nasional

Sebanyak 70 Calon Anggota Mendaftar, Rianto SH, MH Curi Perhatian di Seleksi Komisi Informasi Sumut 2026

Rabu, 22 April 2026 - 22:44:29 WIB
Nasional

3 Tahun Penembakan Tokoh Pers Rahimandani Tak Terungkap, Ketum JMSI: Ini Luka Demokrasi

Kamis, 12 Februari 2026 - 07:09:08 WIB
Nasional

HUT ke-6 JMSI, Dewan Pers Respons Positif Usulan Perluasan Perlindungan HAM bagi Insan Pers

Ahad, 08 Februari 2026 - 21:32:11 WIB
Nasional

Percepatan PSR Digenjot, BPDP Gandeng 42 Kelembagaan Pekebun di 11 Provinsi

Sabtu, 07 Februari 2026 - 20:08:06 WIB

Perkebunan Disita Satgas PKH, Komisi IV DPRD Inhu Soroti Nasib Buruh Sawit

15 September 2025
Harga CPO Melonjak Jelang Idulfitri, Ini Pendorongnya
28 Maret 2025
Laba Bersih Emiten Sawit Tembus Rp 825,59 Miliar, Melonjak 82,7%
24 Maret 2025
Terkini +INDEKS
Bhabinkamtibmas Polsek Rengat Barat Intensif Pantau Pekarangan Pangan Bergizi, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional
07 Juli 2026
Tokoh Adat Inhu Angkat Bicara, Penjarah dan Pelaku Kekerasan di Kebun Agrinas Rakit Kulim Harus Dipenjara
04 Juli 2026
Brutal! Dua Pekerja PT Pancawaskita Mitra Agrinas Dikeroyok Gerombolan Nasrun Sitepu Bersenjata Tajam
04 Juli 2026
Kasat Intelkam Baharuddin Resmi Naik Jadi AKP, Total 64 Personel Polres Inhu Terima Kenaikan Pangkat
03 Juli 2026
Ancaman Kerugian Negara Mengintai, Jalan Sungai Rawa Kembali Hancur Diduga Akibat ODOL PT Ekasapta Paramita Energi
03 Juli 2026
Meski Sudah Dilaporkan ke Polisi, Gerombolan Nasrun Sitepu Masih Berlanjut Melakukan Penjarahan TBS Agrina
02 Juli 2026
Inovasi Layanan Perkuat Program JKN, Akses Kesehatan Masyarakat Kian Mudah
02 Juli 2026
19 Personel Berprestasi Diganjar Penghargaan di Hari Bhayangkara ke-80 Polres Inhu
02 Juli 2026
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Inhu Bacakan Amanat Presiden: Polri Harus Profesional, Humanis, dan Adaptif
01 Juli 2026
Zakat Pegawai PLN Jadi Penggerak Usaha Mikro, YBM PLN Hadirkan Modal Usaha dan Gerobak Cahaya
30 Juni 2026
Terpopuler +INDEKS
  • 01
    Bhabinkamtibmas Polsek Rengat Barat Intensif Pantau Pekarangan Pangan Bergizi, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional
    Dibaca: 402 Kali
  • 02
    Tokoh Adat Inhu Angkat Bicara, Penjarah dan Pelaku Kekerasan di Kebun Agrinas Rakit Kulim Harus Dipenjara
    Dibaca: 313 Kali
  • 03
    Brutal! Dua Pekerja PT Pancawaskita Mitra Agrinas Dikeroyok Gerombolan Nasrun Sitepu Bersenjata Tajam
    Dibaca: 328 Kali
  • 04
    Kasat Intelkam Baharuddin Resmi Naik Jadi AKP, Total 64 Personel Polres Inhu Terima Kenaikan Pangkat
    Dibaca: 343 Kali
  • 05
    Ancaman Kerugian Negara Mengintai, Jalan Sungai Rawa Kembali Hancur Diduga Akibat ODOL PT Ekasapta Paramita Energi
    Dibaca: 328 Kali
  • 06
    Meski Sudah Dilaporkan ke Polisi, Gerombolan Nasrun Sitepu Masih Berlanjut Melakukan Penjarahan TBS Agrina
    Dibaca: 455 Kali
  • 07
    Inovasi Layanan Perkuat Program JKN, Akses Kesehatan Masyarakat Kian Mudah
    Dibaca: 446 Kali


Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

© 2021 BeritaOne.id