• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Sabtu, 15 Agustus 2026
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
  • Pilihan
  • Terpopuler
  • SawitUpdate
  • Galeri
  • Video
  • Indeks Berita
×
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
Pilihan +INDEKS
  • 01
    ASUS ROG Zephyrus G14: Performa Tinggi dalam Gaming dan Produktivitas
    29 Mei 2024
  • 02
    JMSI Inhu Lakukan Kerja Sama Publikasi dan Advokasi Kemitraan Desa
    01 Mei 2024
  • 03
    Penduduk Kota Geger, Kisah Abu Nawas Mau Terbang
    22 April 2024
  • 04
    Baznas dan Bank Indonesia Bisa Bantu Masyarakat Melunasi Utang Pinjol, Berikut Cara dan Syaratnya
    18 April 2024
  • 05
    36 Kader Golkar Riau Dipanggil DPP Sebagai Calon Di Pilkada 2024, Berikut Nama-namanya
    07 April 2024
  • Home
  • Olahraga

Sepak Bola Kembali Jatuh ke Tangan Kepentingan Politik

Novi Rahmadani

Ahad, 19 Oktober 2025 13:55:00 WIB
Cetak
Sepak Bola Kembali Jatuh ke Tangan Kepentingan Politik

Jakarta, BeritaOne.Id - SEJAK Shin Tae-yong (STY) dipecat oleh PSSI, saya sudah punya firasat nggak enak. Ini bukan soal fanatisme terhadap pelatih Korea Selatan itu, tapi karena keputusannya terasa janggal dan buru-buru. Firasat saya sederhana: PSSI lagi-lagi jatuh ke tangan kepentingan politik.

Padahal, di bawah STY, timnas menunjukkan progres nyata. Ranking FIFA naik dari posisi 173 pada 2020 menjadi 134 pada Juni 2024. Permainan kita mulai punya arah, intensitas pressing tinggi, dan mental pemain muda seperti Marselino Fedinan, Witan Sulaeman, hingga Justin Hubner tumbuh luar biasa. Tapi justru di saat performa itu membaik, STY dilepas begitu saja.

Dari situ, saya langsung curiga -- bau politiknya mulai tercium. Apalagi, keputusan itu datang tak lama setelah gonjang-ganjing soal dukungan PSSI terhadap agenda politik tertentu di level nasional. Ini bukan tuduhan tanpa dasar. Dalam sejarah PSSI, aroma politik selalu hadir dalam tiap pergantian pucuk kepemimpinan -- mulai dari era Nurdin Halid, Djohar Arifin, hingga sekarang di bawah Erick Thohir.

Dan ketika Patrick Kluivert diumumkan sebagai pengganti STY, kecurigaan saya berubah jadi keyakinan. Kluivert memang legenda besar saat masih bermain di Barcelona dan timnas Belanda. Tapi di dunia kepelatihan, catatannya minim prestasi. Berdasarkan data Transfermarkt, sejak 2008 Kluivert hanya pernah melatih dua tim secara penuh: FC Twente U-21 dan Curacao. Sisanya, ia hanya menjabat asisten pelatih atau direktur teknik tanpa pencapaian signifikan.

Lalu kenapa orang dengan rekam jejak seperti itu ditunjuk untuk menggantikan STY yang sedang membawa timnas ke arah positif? Jawabannya jelas bukan soal kemampuan teknis. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar strategi dan formasi -- ada kepentingan.

Dan gejalanya makin kuat terlihat ketika laga perdana pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Arab Saudi berlangsung. Formasi yang diturunkan Kluivert terasa aneh. Pemain-pemain inti yang biasa tampil disiplin di bawah STY justru disimpan, sementara beberapa pemain yang belum nyetel malah dipaksakan main.

Hasilnya, permainan terlihat kacau, kehilangan bentuk. Banyak pengamat sepak bola menyebut, susunan pemain itu “nggak nyambung dengan logika taktik.”

Beberapa analis di media luar bahkan menyoroti keputusan itu. Gulf Today menulis, “Indonesia tampil tanpa keseimbangan, seolah tidak punya rencana permainan.”

Kalau Anda paham dunia taruhan internasional, pola seperti ini sering terjadi. Ketika hasil pertandingan bisa ditebak aneh -- bukan kalah karena taktik, tapi karena formasi yang anomali.

Saya bukan menuduh langsung, tapi mari jujur: sepak bola dunia memang tak sepenuhnya bersih. Dan jika federasi kita tak punya benteng integritas kuat, sangat mudah terseret dalam arus kotor itu.

Sekarang, kita lihat siapa di puncak semua keputusan: Erick Thohir. Ia dikenal sebagai figur kuat di pemerintahan dan bisnis. Tapi publik tentu masih ingat, kasus pemecatan komisaris dan direksi BUMN ASDP -- yang justru terjadi setelah mereka melaporkan dugaan korupsi ke Kementerian BUMN.

Menurut laporan Tempo dan CNN Indonesia (Mei 2024), dua pejabat itu dicopot tak lama setelah menyampaikan temuan ke Erick Thohir. Ini menimbulkan tanda tanya besar soal standar integritas dan keberpihakan terhadap transparansi.

Dan jangan lupa: Erick juga memegang dua jabatan strategis sekaligus -- Menpora dan Ketua PSSI. Dalam tata kelola pemerintahan modern, itu sudah jelas conflict of interest. Bagaimana mungkin seseorang bisa bersikap objektif mengatur olahraga nasional, termasuk sepak bola, sementara dia juga ketua federasi olahraga paling besar dan berpengaruh?

Lucunya, sebagian publik justru memuji rangkap jabatan itu. Katanya, “biar efisien, toh orangnya kompeten.” Padahal, efisiensi bukan berarti semua kekuasaan dikonsentrasikan di satu tangan. Itulah bibit otoritarianisme dalam dunia olahraga?"samar tapi berbahaya.

Lihat saja bagaimana gaya kepemimpinan Erick di PSSI -- lebih korporatis daripada partisipatif. Semua keputusan besar, termasuk soal pelatih, dilakukan tertutup.

Publik dan pecinta sepak bola cuma bisa tahu hasil akhir dari jumpa pers atau unggahan Instagram. Padahal, sepak bola itu milik rakyat. Harusnya keputusan besar seperti itu dikomunikasikan secara terbuka, bukan seperti rapat direksi perusahaan.

Kalau ditarik benang merahnya, semua langkah ini menunjukkan satu hal: sepak bola Indonesia sedang dikendalikan bukan untuk prestasi, tapi untuk kepentingan. Entah itu politik, bisnis, atau bahkan judi. Polanya sudah terlalu jelas untuk diabaikan.

Saya bukan anti Erick Thohir, bukan juga pendukung STY garis keras. Saya cuma pemaen bola kampung yang masih percaya bahwa sepak bola itu sederhana: kerja keras, jujur, dan kompak. Tapi kalau sudah dicampuri kepentingan politik dan uang besar, yang tersisa dari sepak bola kita cuma seragam dan kekecewaan.

Ironisnya, sebagian dari kita cepat melupakan ini semua. Begitu tim menang lawan tim kecil di Piala AFF, semua langsung euforia, seolah semuanya baik-baik saja. Padahal, sistem pembinaan masih amburadul, liga masih rawan match fixing, dan kebijakan PSSI masih jauh dari transparan.

Harusnya, dari pemecatan STY sampai penunjukan Kluivert, publik bisa menarik kesimpulan tegas: ini bukan soal sepak bola, tapi soal siapa yang punya kuasa mengatur arah sepak bola Indonesia. Dan kalau arah itu tetap dibiarkan seperti ini, jangan berharap kita bisa bicara banyak di Piala Dunia 2026.

Karena pada akhirnya, sepak bola kita bukan lagi tentang siapa yang terbaik di lapangan, tapi siapa yang paling punya kepentingan di balik layar.**BrOne-09


Sumber : Rmol Com /  Editor : Redaksi

Tulis Komentar

Berita Lainnya +INDEKS
Olahraga

5 Teknik Dasar Padel untuk Meningkatkan Permainan Anda di Lapangan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:03:44 WIB
Olahraga

5 Fakta Menarik Skuad Timnas Indonesia di FIFA Series 2026

Rabu, 29 April 2026 - 12:40:20 WIB
Olahraga

Timnas U-22 Tersingkir, Ketum MSBI Minta Presiden Turun Tangan

Sabtu, 13 Desember 2025 - 20:21:25 WIB
Dodi Irawan Ucapkan Alhamdulillah

Tim Dayung Riau Ukir Sejarah di POPNAS XVII 2025, Sabet 3 Emas dan 2 Perak untuk Bumi Lancang Kuning

Ahad, 09 November 2025 - 23:54:04 WIB
Olahraga

Warganet Heboh Marselino Dicoret dari Timnas Indonesia

Kamis, 25 September 2025 - 11:21:01 WIB
Olahraga

113 Tim Mengikuti Turnamen Mini Soccer Karang Taruna Boma Cup II Desa Bongkal Malang

Sabtu, 20 September 2025 - 20:19:06 WIB

Perkebunan Disita Satgas PKH, Komisi IV DPRD Inhu Soroti Nasib Buruh Sawit

15 September 2025
Harga CPO Melonjak Jelang Idulfitri, Ini Pendorongnya
28 Maret 2025
Laba Bersih Emiten Sawit Tembus Rp 825,59 Miliar, Melonjak 82,7%
24 Maret 2025
Terkini +INDEKS
Boyamin MAKI: Presiden Prabowo Bisa Copot Wamen PU Diana di Kasus Rumah Eks Pejuang Timtim
15 Agustus 2026
Perkuat Sinergi dengan Masyarakat, PT PAS Mitra Agrinas Dukung Pelaksanaan MTQ Danau Rambai
14 Agustus 2026
Wanita Muda Ditangkap Polisi, 3,88 Gram Sabu Ditemukan di Kamar
13 Agustus 2026
Laptop Gaming Tipis dan Portabel 2026: Apakah ASUS ROG™ Zephyrus G16 Layak Dibeli?
12 Agustus 2026
54 Rumah Eks Pejuang Timtim Ambruk, MAKI Desak Kejagung Caplok Kasus dari Kejati NTT
12 Agustus 2026
Maknai Kemerdekaan dengan Kerja Nyata, Ketua DPRD Inhu Perbaiki Jalan Telok Erong Pakai Dana Pribadi
12 Agustus 2026
Bangun Harmoni dengan Masyarakat, PT PAS Mitra Agrinas Bantu Kegiatan Kepemudaan di Dua Desa
12 Agustus 2026
Dugaan Gratifikasi 3 Kades dan 1 Lurah Bergulir, Dua Pelapor Diperiksa Penyidik
11 Agustus 2026
Kasus Korupsi Rumah Eks Pejuang Timtim Masih Diselidiki, Komisi Kejaksaan Desak Kejati NTT Tuntaskan
11 Agustus 2026
Dodi Irawan dan Iskandar Zulkarnain Bawa Pesan Budaya Lewat Puisi “Laksamana Riau”
10 Agustus 2026
Terpopuler +INDEKS
  • 01
    Laptop Gaming Tipis dan Portabel 2026: Apakah ASUS ROG™ Zephyrus G16 Layak Dibeli?
    Dibaca: 928 Kali
  • 02
    Maknai Kemerdekaan dengan Kerja Nyata, Ketua DPRD Inhu Perbaiki Jalan Telok Erong Pakai Dana Pribadi
    Dibaca: 206 Kali
  • 03
    Dugaan Gratifikasi 3 Kades dan 1 Lurah Bergulir, Dua Pelapor Diperiksa Penyidik
    Dibaca: 213 Kali
  • 04
    Kasus Korupsi Rumah Eks Pejuang Timtim Masih Diselidiki, Komisi Kejaksaan Desak Kejati NTT Tuntaskan
    Dibaca: 208 Kali
  • 05
    Dodi Irawan dan Iskandar Zulkarnain Bawa Pesan Budaya Lewat Puisi “Laksamana Riau”
    Dibaca: 287 Kali
  • 06
    Rawat Jalan dan Kurangi Debu, PT PAS Mitra Agrinas Beri Manfaat bagi Warga Danau Rambai
    Dibaca: 277 Kali
  • 07
    Wacana Kota Rumbai Kembali Mencuat, Spanduk “Selamat Datang di Kota Rumbai” Terpampang di Jembatan Siak IV
    Dibaca: 318 Kali


Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

© 2021 BeritaOne.id