• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Rabu, 01 Juli 2026
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
  • Pilihan
  • Terpopuler
  • SawitUpdate
  • Galeri
  • Video
  • Indeks Berita
×
  • Beranda
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Video
  • SawitUpdate
  • Internasional
  • Nasional
  • Humoria
  • Intermezzo
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Pelalawan
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rohul
  • Rohil
  • Inhu
  • Inhil
  • Kuansing
  • Meranti
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Galeri
  • Indeks
Pilihan +INDEKS
  • 01
    ASUS ROG Zephyrus G14: Performa Tinggi dalam Gaming dan Produktivitas
    29 Mei 2024
  • 02
    JMSI Inhu Lakukan Kerja Sama Publikasi dan Advokasi Kemitraan Desa
    01 Mei 2024
  • 03
    Penduduk Kota Geger, Kisah Abu Nawas Mau Terbang
    22 April 2024
  • 04
    Baznas dan Bank Indonesia Bisa Bantu Masyarakat Melunasi Utang Pinjol, Berikut Cara dan Syaratnya
    18 April 2024
  • 05
    36 Kader Golkar Riau Dipanggil DPP Sebagai Calon Di Pilkada 2024, Berikut Nama-namanya
    07 April 2024
  • Home
  • Olahraga

Sepak Bola Kembali Jatuh ke Tangan Kepentingan Politik

Novi Rahmadani

Ahad, 19 Oktober 2025 13:55:00 WIB
Cetak
Sepak Bola Kembali Jatuh ke Tangan Kepentingan Politik

Jakarta, BeritaOne.Id - SEJAK Shin Tae-yong (STY) dipecat oleh PSSI, saya sudah punya firasat nggak enak. Ini bukan soal fanatisme terhadap pelatih Korea Selatan itu, tapi karena keputusannya terasa janggal dan buru-buru. Firasat saya sederhana: PSSI lagi-lagi jatuh ke tangan kepentingan politik.

Padahal, di bawah STY, timnas menunjukkan progres nyata. Ranking FIFA naik dari posisi 173 pada 2020 menjadi 134 pada Juni 2024. Permainan kita mulai punya arah, intensitas pressing tinggi, dan mental pemain muda seperti Marselino Fedinan, Witan Sulaeman, hingga Justin Hubner tumbuh luar biasa. Tapi justru di saat performa itu membaik, STY dilepas begitu saja.

Dari situ, saya langsung curiga -- bau politiknya mulai tercium. Apalagi, keputusan itu datang tak lama setelah gonjang-ganjing soal dukungan PSSI terhadap agenda politik tertentu di level nasional. Ini bukan tuduhan tanpa dasar. Dalam sejarah PSSI, aroma politik selalu hadir dalam tiap pergantian pucuk kepemimpinan -- mulai dari era Nurdin Halid, Djohar Arifin, hingga sekarang di bawah Erick Thohir.

Dan ketika Patrick Kluivert diumumkan sebagai pengganti STY, kecurigaan saya berubah jadi keyakinan. Kluivert memang legenda besar saat masih bermain di Barcelona dan timnas Belanda. Tapi di dunia kepelatihan, catatannya minim prestasi. Berdasarkan data Transfermarkt, sejak 2008 Kluivert hanya pernah melatih dua tim secara penuh: FC Twente U-21 dan Curacao. Sisanya, ia hanya menjabat asisten pelatih atau direktur teknik tanpa pencapaian signifikan.

Lalu kenapa orang dengan rekam jejak seperti itu ditunjuk untuk menggantikan STY yang sedang membawa timnas ke arah positif? Jawabannya jelas bukan soal kemampuan teknis. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar strategi dan formasi -- ada kepentingan.

Dan gejalanya makin kuat terlihat ketika laga perdana pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Arab Saudi berlangsung. Formasi yang diturunkan Kluivert terasa aneh. Pemain-pemain inti yang biasa tampil disiplin di bawah STY justru disimpan, sementara beberapa pemain yang belum nyetel malah dipaksakan main.

Hasilnya, permainan terlihat kacau, kehilangan bentuk. Banyak pengamat sepak bola menyebut, susunan pemain itu “nggak nyambung dengan logika taktik.”

Beberapa analis di media luar bahkan menyoroti keputusan itu. Gulf Today menulis, “Indonesia tampil tanpa keseimbangan, seolah tidak punya rencana permainan.”

Kalau Anda paham dunia taruhan internasional, pola seperti ini sering terjadi. Ketika hasil pertandingan bisa ditebak aneh -- bukan kalah karena taktik, tapi karena formasi yang anomali.

Saya bukan menuduh langsung, tapi mari jujur: sepak bola dunia memang tak sepenuhnya bersih. Dan jika federasi kita tak punya benteng integritas kuat, sangat mudah terseret dalam arus kotor itu.

Sekarang, kita lihat siapa di puncak semua keputusan: Erick Thohir. Ia dikenal sebagai figur kuat di pemerintahan dan bisnis. Tapi publik tentu masih ingat, kasus pemecatan komisaris dan direksi BUMN ASDP -- yang justru terjadi setelah mereka melaporkan dugaan korupsi ke Kementerian BUMN.

Menurut laporan Tempo dan CNN Indonesia (Mei 2024), dua pejabat itu dicopot tak lama setelah menyampaikan temuan ke Erick Thohir. Ini menimbulkan tanda tanya besar soal standar integritas dan keberpihakan terhadap transparansi.

Dan jangan lupa: Erick juga memegang dua jabatan strategis sekaligus -- Menpora dan Ketua PSSI. Dalam tata kelola pemerintahan modern, itu sudah jelas conflict of interest. Bagaimana mungkin seseorang bisa bersikap objektif mengatur olahraga nasional, termasuk sepak bola, sementara dia juga ketua federasi olahraga paling besar dan berpengaruh?

Lucunya, sebagian publik justru memuji rangkap jabatan itu. Katanya, “biar efisien, toh orangnya kompeten.” Padahal, efisiensi bukan berarti semua kekuasaan dikonsentrasikan di satu tangan. Itulah bibit otoritarianisme dalam dunia olahraga?"samar tapi berbahaya.

Lihat saja bagaimana gaya kepemimpinan Erick di PSSI -- lebih korporatis daripada partisipatif. Semua keputusan besar, termasuk soal pelatih, dilakukan tertutup.

Publik dan pecinta sepak bola cuma bisa tahu hasil akhir dari jumpa pers atau unggahan Instagram. Padahal, sepak bola itu milik rakyat. Harusnya keputusan besar seperti itu dikomunikasikan secara terbuka, bukan seperti rapat direksi perusahaan.

Kalau ditarik benang merahnya, semua langkah ini menunjukkan satu hal: sepak bola Indonesia sedang dikendalikan bukan untuk prestasi, tapi untuk kepentingan. Entah itu politik, bisnis, atau bahkan judi. Polanya sudah terlalu jelas untuk diabaikan.

Saya bukan anti Erick Thohir, bukan juga pendukung STY garis keras. Saya cuma pemaen bola kampung yang masih percaya bahwa sepak bola itu sederhana: kerja keras, jujur, dan kompak. Tapi kalau sudah dicampuri kepentingan politik dan uang besar, yang tersisa dari sepak bola kita cuma seragam dan kekecewaan.

Ironisnya, sebagian dari kita cepat melupakan ini semua. Begitu tim menang lawan tim kecil di Piala AFF, semua langsung euforia, seolah semuanya baik-baik saja. Padahal, sistem pembinaan masih amburadul, liga masih rawan match fixing, dan kebijakan PSSI masih jauh dari transparan.

Harusnya, dari pemecatan STY sampai penunjukan Kluivert, publik bisa menarik kesimpulan tegas: ini bukan soal sepak bola, tapi soal siapa yang punya kuasa mengatur arah sepak bola Indonesia. Dan kalau arah itu tetap dibiarkan seperti ini, jangan berharap kita bisa bicara banyak di Piala Dunia 2026.

Karena pada akhirnya, sepak bola kita bukan lagi tentang siapa yang terbaik di lapangan, tapi siapa yang paling punya kepentingan di balik layar.**BrOne-09


Sumber : Rmol Com /  Editor : Redaksi

Tulis Komentar

Berita Lainnya +INDEKS
Olahraga

5 Teknik Dasar Padel untuk Meningkatkan Permainan Anda di Lapangan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:03:44 WIB
Olahraga

5 Fakta Menarik Skuad Timnas Indonesia di FIFA Series 2026

Rabu, 29 April 2026 - 12:40:20 WIB
Olahraga

Timnas U-22 Tersingkir, Ketum MSBI Minta Presiden Turun Tangan

Sabtu, 13 Desember 2025 - 20:21:25 WIB
Dodi Irawan Ucapkan Alhamdulillah

Tim Dayung Riau Ukir Sejarah di POPNAS XVII 2025, Sabet 3 Emas dan 2 Perak untuk Bumi Lancang Kuning

Ahad, 09 November 2025 - 23:54:04 WIB
Olahraga

Warganet Heboh Marselino Dicoret dari Timnas Indonesia

Kamis, 25 September 2025 - 11:21:01 WIB
Olahraga

113 Tim Mengikuti Turnamen Mini Soccer Karang Taruna Boma Cup II Desa Bongkal Malang

Sabtu, 20 September 2025 - 20:19:06 WIB

Perkebunan Disita Satgas PKH, Komisi IV DPRD Inhu Soroti Nasib Buruh Sawit

15 September 2025
Harga CPO Melonjak Jelang Idulfitri, Ini Pendorongnya
28 Maret 2025
Laba Bersih Emiten Sawit Tembus Rp 825,59 Miliar, Melonjak 82,7%
24 Maret 2025
Terkini +INDEKS
Zakat Pegawai PLN Jadi Penggerak Usaha Mikro, YBM PLN Hadirkan Modal Usaha dan Gerobak Cahaya
30 Juni 2026
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polsek Rengat Barat Intensif Monitoring Pekarangan Bergizi di Empat Desa
30 Juni 2026
PLN Tegaskan Komitmen Hadirkan Listrik Andal, Sinergi dengan Komisi XII DPR RI Percepat Pembangunan Kelistrikan Riau
30 Juni 2026
Kelompok Nasrun Sitepu dan Kani Kembali Berurusan dengan Polisi Akibat Menjarah di Kebun Agrinas
30 Juni 2026
Sabu Disembunyikan di Belakang Rumah, Warga Peranap Digelandang ke Polres Inhu
29 Juni 2026
DPP IKJR Hadiri HUT ke 44 Tahun Desa Payung Sekaki, Kampriwoto : Tidak Benar Ada Dualisme Kepengurusan
28 Juni 2026
Berdedikasi Bangun Sinergi Dunia Usaha dan Pemerintah, Hotli Maruli Sirait Raih Anugerah "An Extraordinary Leader" JMSI Award 2026
27 Juni 2026
PLN UP3 Rengat Siaga Penuh, Pastikan Listrik Andal Tanpa Kedip Selama MTQ ke-44 Riau di Kuansing
27 Juni 2026
Kapolsek Rengat Barat Turun Langsung Pantau Jagung, Program P2B Terus Diperkuat di Desa
26 Juni 2026
Pelantikan JMSI Riau 2025-2030 Berlangsung Meriah, 12 Tokoh Terima Penghargaan JMSI Award 2026
26 Juni 2026
Terpopuler +INDEKS
  • 01
    Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polsek Rengat Barat Intensif Monitoring Pekarangan Bergizi di Empat Desa
    Dibaca: 234 Kali
  • 02
    DPP IKJR Hadiri HUT ke 44 Tahun Desa Payung Sekaki, Kampriwoto : Tidak Benar Ada Dualisme Kepengurusan
    Dibaca: 201 Kali
  • 03
    Berdedikasi Bangun Sinergi Dunia Usaha dan Pemerintah, Hotli Maruli Sirait Raih Anugerah "An Extraordinary Leader" JMSI Award 2026
    Dibaca: 232 Kali
  • 04
    PLN UP3 Rengat Siaga Penuh, Pastikan Listrik Andal Tanpa Kedip Selama MTQ ke-44 Riau di Kuansing
    Dibaca: 230 Kali
  • 05
    Kapolsek Rengat Barat Turun Langsung Pantau Jagung, Program P2B Terus Diperkuat di Desa
    Dibaca: 540 Kali
  • 06
    Pelantikan JMSI Riau 2025-2030 Berlangsung Meriah, 12 Tokoh Terima Penghargaan JMSI Award 2026
    Dibaca: 303 Kali
  • 07
    YBM PLN Hadirkan Senyum di Libur Sekolah Lewat Khitan Massal dan Bantuan Pendidikan
    Dibaca: 321 Kali


Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

© 2021 BeritaOne.id