Kanal

Drainase yang "Stroke" (Penyumbatan Kronis) Kenapa Air di Parit Sedikit?

BeritaOne.id - Fenomena "air sesat" di Jalan Sudirman ujung ini memang menggelitik nalar teknis kita. Pagi ini, sembari warga sibuk menjemur kasur yang basah, mari kita bedah secara ilmiah tapi tetap dengan logika kito budak melayu riau yang tajam.
Secara akademis, ini bukan sekadar "genangan", tapi sebuah kegagalan sistematis yang dalam bahasa perencanaan kota disebut sebagai malfungsi drainase permukaan. Berikut adalah bedah opininya:

1. Hukum Newton vs "Hukum Egois" Aspal
Secara ilmiah, air itu taat pada hukum gravitasi. Ia selalu mencari tempat terendah. Kalau air lebih suka balapan di atas aspal Jalan Sudirman daripada masuk ke parit, jawabannya bukan karena paritnya minder, tapi karena adanya "Inversion of Level" atau ketimpangan elevasi.
Logikanya begini:
Jalan Menjadi Parit Raksasa: Ketika aspal terus dilapis (overlay) tanpa pengerukan atau penyesuaian tinggi parit, maka permukaan jalan perlahan tapi pasti menjadi lebih tinggi dari lubang kontrol (inlet) drainase.
Efek Bendungan: Bahu jalan atau trotoar seringkali dibangun tanpa memperhatikan "tali air" Akibatnya, air di badan jalan terperangkap di atas aspal dan tidak punya akses "pintu masuk" ke parit. Akhirnya, jalan raya berubah fungsi menjadi sungai aspal. Sehingga setiap musim hujan jumlah sungai naik drastis, seperti sungai sudirman, sungai Arifin dan sungai tambusai bin nangka.

2. Drainase yang "Stroke" (Penyumbatan Kronis)
Kenapa air di parit sedikit? Apakah paritnya sudah penuh ilmu sakti sehingga anti-air? Tentu tidak. Ini masalah "Bottle Neck" dan sedimentasi.
Di bawah sana, parit kita mungkin sedang mengalami "kolesterol tinggi" alias penuh sedimen, sampah, dan kabel-kabel utilitas yang semrawut.
Ketika parit di hilir sudah tersumbat, terjadi tekanan balik (backwater). Air yang mau masuk ke parit ditolak oleh air yang sudah ada di dalam. Akhirnya, air memilih jalur alternatif yang lebih lancar: "Aspal mulus Sudirman".

3. "Ayiar Tagonang" yang Bingung Arah
Istilah "ayiar nen tagonang" ini sebenarnya sangat ilmiah. Dalam hidrologi, kita bicara tentang "Time of Concentration", yaitu waktu yang diperlukan air untuk mengalir dari titik terjauh menuju titik kontrol.
Di Pekanbaru, Titik ini kacau balau karena:
Koefisien Limpasan yang Tinggi: Hampir semua permukaan sudah disemen. Tanah tidak lagi mampu menyerap air (Infiltrasi mogok).

Kemiringan (Slope) yang Menipu: Pekanbaru ini relatif landai. Selisih tinggi 10-20 cm saja sudah menentukan apakah air akan mengalir ke sungai atau balik mengalir ke teras rumah warga.

Kesimpulan Kritis :
Kalau air mengalir kencang di atas jalan sementara paritnya tampak "santai", itu pertanda "manajemen drainase kita sedang sakit". Kita sibuk mempercantik wajah kota dengan lampu-lampu, tapi lupa mengurus "usus" kota yang tersumbat.
Secara ilmiah, parit itu harusnya bersifat "self-cleansing" (bisa membersihkan diri sendiri dengan kecepatan aliran tertentu). Kalau parit kering tapi jalan banjir, itu artinya perencanaan elevasi kita sedang "tidur" saat proyek dikerjakan.

Pesan untuk penguasa kota: Jangan sampai warga berpikir bahwa aspal Sudirman itu memang sengaja didesain jadi wahana "river tubing" gratis setiap kali hujan turun. Kembalikan fungsi parit sebagai saluran air, bukan sebagai monumen beton yang isinya hanya tanah dan sampah!
Mari kita seruput kopi pagi ini, sembari berharap "kebingungan" air ini tidak menular ke kebingungan para pengambil kebijakan dalam mengelola "Flood Master Plan" Pekanbaru. Salam perencanaan!

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER