Harga CPO Naik Bukan Karena Permintaan Pasar Global Meningkat, ini Biangnya

Ahad, 04 Februari 2024

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Dr Gulat ME Manurung.

Pekanbaru, BeritaOne.id - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia di awal tahun 2024 mengalami kenaikan hingga menembus level Rp 12.000/kg.

Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Dr Gulat ME Manurung, kenaikan harga CPO disebabkan oleh anjloknya pasokan bahan baku.

"Perlu dicatat bahwa naiknya harga CPO dunia saat ini, itu bukan karena permintaan meningkat. Tapi karena produksi tandan buah segar (TBS) petani dan korporasi ambruk semua, turun semua," kata Gulat, saat berbincang dengan awak media, kemarin.

"Saat ini turunnya mencapai 20 sampai 30 persen, khususnya di kalangan petani," tambahnya.

Turunnya produksi sawit dari perkebunan milik petani ini menurutnya sangat berpengaruh ke pasokan CPO dunia.

"Lahan petani sawit kan luasnya 42 persen dari total luas sawit Indonesia, tentu secara umum itu akan mempengaruhi produktivitas CPO Indonesia," ujarnya.

Kondisi inilah yang kemudian direspon oleh pasar internasional. Karena Indonesia merupakan pemasok CPO terbesar dunia, maka berkurangnya stok CPO domestik akan berpengaruh secara global.

"Akibatnya, terjadilah hukum ekonomi supply and demand. Kalau pasokan turun, sementara permintaan tetap, tentu harga akan naik," jelasnya.

Gulat juga tak menampik adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi kenaikan harga CPO dunia. "Tapi faktor utamanya, menurutku ya, akibat menurunnya produktivitas sawit Indonesia," tegasnya.

Penurunan produktivitas kebun sawit disebabkan oleh melonjaknya harga pupuk sepanjang tiga tahun terakhir. Kondisi ini membuat petani sawit yang tidak lagi mendapatkan jatah pupuk subsidi kesulitan memupuk tanamannya. Bahkan banyak yang terpaksa tidak melakukan pemupukan sama sekali.

"Tahun inilah puncak turunnya produktivitas sawit, karena faktor pemupukan yang tidak dilakukan beberapa tahun terakhir. Kalaupun sawit dipupuk, itu tidak pernah sesuai dosis, petani tidak sanggup beli pupuk sesuai kebutuhan karena harganya mahal," pungkasnya. **B-One03