Polri Anggarkan Beli Perangkat Gas Air Mata Rp49,8 M, ICW Perkirakan Hanya Rp1,6 M

Senin, 10 Juli 2023

Aparat kepolisian menembakkan gas air mata ke arah penonton di Stadion Kanjuruhan Malang, usai laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya, Sabtu malam, 1 Oktober 2022.

Jakarta, BeritaOne.id - Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Trend Asia menilai anggaran pengadaan 187 pepper projectile launcher (salah satu perangkat penggunaan gas air mata) oleh Polri pada 2022 terlalu mahal, mencapai Rp49.860.450.000 (Rp49,8 miliar).

Dikutip dari Kompas.com, peneliti ICW Wana Alamsyah mengatakan, pihaknya menemukan rencana pengadaan 187 pepper projectile launcher oleh Polri itu dari sistem informasi umum pengadaan pada 2022.

“Nilai kontraknya adalah Rp49 miliar dan yang memenangkan adalah PT Tri Manunggal Daya Cipta,” kata Wana dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube ICW, Ahad (9/7/2023).

Adapun bentuk pepper projectile launcher berbentuk mirip dengan pistol glock. ICW dan Trend Asia kemudian melakukan perhitungan sederhana dan mendapati harga satu unit pepper projectile launcher Rp 266,6 juta.

Ketika melakukan verifikasi, mereka mendapati PT Tri Manunggal Daya Cipta itu benar menyediakan barang pepper projectile launcher bernama Byrna Le Launcher-Pepper.

Yang mana kami asumsikan ketika PT Tri Manunggal Daya Cipta ini menang (tender), artinya dia akan menyediakan barang tersebut ke kepolisian,” ujar Wana.

Selanjutnya, ICW dan Trend Asia mengecek website produsen pepper projectile launcher dengan harga 479.99 dollar Amerika Serikat. Pihak peneliti mengasumsikan bahwa pemenang kontrak menyediakan barang pada 24 Februari atau satu bulan setelah masa penandatanganan kontrak berakhir pada 24 Januari 2022.

Mereka lantas mengonversi harga satuan pepper projectile launcher itu dengan kurs dollar 24 Februari menjadi Rp 6,9 juta per unit.

"PT Tri Manunggal Daya Cipta itu menawarkan harga yang sangat besar yaitu Rp 266,6 juta,” tutur Wana.

Wana dan pihaknya menyadari, biaya lain seperti administrasi 5 persen, pengiriman 10 persen, dan keuntungan 10 persen juga harus dihitung mengingat perusahaan memiliki tujuan keuntungan. Jumlah keseluruhan biaya lain-lain ini diperkirakan 25 persen.

ICW kemudian menemukan asumsi nilai kontrak nilai kontrak pengadaan pepper projectil launcher Rp 1.294.920.795 miliar. Ditambah biaya lain-lain, yakni 25 persen dari nilai kontrak seharusnya, sebesar Rp 323.730.199, mereka memperkirakan jumlah pembelian 187 unit pepper projectile launcher hanya membutuhkan Rp 1.618.650.993 miliar.

Jumlah ini sangat jauh dengan nilai kontrak yang tertera, yakni Rp 49.860.450.000 atau membuat pemborosan mencapai sekitar Rp 48.241.799.007.

“Dan hal ini tentu akan berdampak pada potensi pemborosan dan dugaan kemahalan harga sekitar 30 kali lipat,” kata Wana.

“Jadi ada gape (selisih) sekitar Rp 48 miliar yang sebenarnya bisa di-saving oleh pemerintah tapi kemudian itu diduga diabaikan oleh kepolisian,” tambahnya.

Sebelumnya, ICW dan Trend Asia merilis hasil pemantauan Pengadaan Gas Air Mata oleh Kepolisian. Mereka menemukan Polri membeli 868 ribu peluru gas iar mata dengan niali kotrak Rp 1.189.000.000.000 (Rp 1,189 triliun) sepanjang 2013-2022.

Selain itu, Polri juga membeli 36 ribu unit pelontar gas air mata atau launcher dengan nilai kontrak Rp 657,4 miliar; 17 drone pelontar gas air mata pada 2020-2021 dengan nilai kontrak Rp 65, 5 miliar; dan biaya jasa pengiriman Rp18,5 miliar.

Adapun penelitian ICW dan Trend Asia bersumber pada data terbuka yang diakses dari opentender.net, Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), pemberitaan, hingga akta perusahaan.

Kompas.com telah menghubungi pihak Divisi Humas Polri untuk meminta klarifikasi terkait temuan tersebut. Namun, hingga artikel ini ditulis belum ada jawaban.