Harus Ada Bertanggungjawab Tragedi Kemanusian di Kanjuruhan Malang

Selasa, 04 Oktober 2022

JAKARTA,BeritaOne.id- Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA-KAMMI) menyampaikan  turut berduka cita atas tragedi berdarah
saat pertandingan Arema FC vs Persebaya.

Menurut Ketua Umum KA-KAMMI, Rahman Toha Budiarto, sebuah tragedi yang telah menelan korban nyawa hingga 174 orang (berdasarkan BPBD Malang, per tg 2 Oktober 2022, jam 10.00).

"Kami sangat menyesalkan sekali mengapa tragedi Kanjuruhan ini sampai terjadi. Sebuah keinginan untuk bersenang senang dan hiburan malah berujung tragedi bagi para supporter,"ujar dia dalam rilisnya yang diterima beritaone.id, Rabu (4/10/2022).

Dikatakan, bahwa pertandingan berlangsung meriah dan damai di sepanjang pertandingan. Namun setelah pertandiangan usai,kericuhan malah terjadi.

"Ada penonton mencoba menerabas masuk ke tengah lapangan, akan tetapi yang patut kami sesalkan adalah respon penanganan aparat keamanan yang terlihat berlebihan. Bahkan penggunaan gas air mata, yang secara aturan organisasi sepak bola dunia (FIFA) dilarang justru malah digunakan,"jelas Rahman

Lanjut dia, puluhan tembakan gas air mata yang ditembakan ke tribun-tribun penonton, akhirnya malah menimbulkan kepanikan penonton dan berakibat meninggalnya lebih dari seratus nyawa.

"Kami melihat ada penanganan situasi crowded yang tidak disiapkan. Pintu keluar stadion yang biasanya dibuka sebelum pertandingan berakhir pun sepertinya belum dibuka. Ditambah kepanikan penonton di tribun karena ditembaki gas air mata membuat situasi crowded semakin tidak terkendali. Situasi ini lah yang sepertinya menjadikan penyebab banyak nya korban jiwa berjatuhan,"paparnya.

Dijelaskan lagi, bahwa ada kondisi-kondisi lain sebelum pertandingan yang bisa menjadi pemicu kericuhan adalah hal yang harus dievaluasi secara menyeluruh.

Yakni, peran para stakeholder liga sepakbola ini juga harus dievaluasi, mulai dari PT LIB (liga Indonesia baru), PSSI, pihak penyiar bola, manajemen stadion Kanjuruhan Malang, bahkan sampai pihak Polri yang mengamankan jalannya pertandingan.

"Korban sudah berjatuhan dan tidak bisa kalau tidak ada yang mengambil tanggung jawab, baik tanggung jawab secara struktural maupun tanggung jawab secara fungsional. Pernyataan Kapolda Jawa Timur bahwa penggunaan gas air mata sudah sesuai prosedur pun menjadi sangat bertentangan dengan fakta bahwa ada akibat korban ratusan nyawa,"ucap dia.

Dalam rilis ini juga dituliskan, dengan melihat situasi situasi dari tragedi Kanjuruhan Malang ini, KA KAMMI menyampaikan beberpa sikap, menyesalkan terjadinya tragedi Kanjuruhan, Malang ini dan mengutuk tindakan-tindakan keras dan berlebihan yang dilakukan oleh aparat kepolisian kepada para supporter bola, karena telah menimbulkan korban jiwa.

Kemudian, menuntut tanggung jawab penuh pihak penyelenggara atas terjadinya tragedy ini, terutama dari PSSI, PT LIB, pihak keamanan (Polri), baik tanggung jawab secara struktural (mundur dari jabatan), fungsional (perdata) dan personal (pidana)

Selanjutnya, menuntut kepada pemerintah agar membentuk tim investigasi menyeluruh dan memastikan ada pihak yang bertanggung jawab penuh atas tragedi ini dan selanjutnya memberikan sanksi yang tegas terutama dari tiga lembaga tersebut

Terakhir, menyerukan kepada segenap masyarakat Indonesia dan pencinta sepak bola Indonesia untuk mendorong perbaikan dan redormasi di dunia sepak bolah tanah air..

"Demikianlah pernyataan sikap kami. Dan berharap kejadian ini menjadi evaluasi besar-besaran bagi semua stakeholder sepak bola tanah air untuk melakukan perbaikan dan pembenahan secara menyeluruh,"pungkasnya.***/Ade