Mengenal Lebih Dekat Minyak Makan Merah

Sabtu, 23 Juli 2022

JAKARTA, Beritaone.id – Turbulensi harga TBS (Tandan Buah Segar) belakangan ini mempercepat langkah petani sawit dalam naik kelas dan turut dalam hilirisasi. Salah satu langkah hilirisasi yang didorong pemerintah melalui produksi minyak makan merah (M3), sebagai alternatif minyak goreng.

Apakah minyak makan merah?

Minyak makan merah atau Red Palm Oil (RPO) adalah produk turunan langsung dari Crude Palm Oil (CPO). Secara proses, minyak makan merah diperoleh dari penyulingan dari minyak sawit mentah/CPO yang memisahkan kandungan air dengan minyak sawit. Karenanya menghasilkan minyak berwarna merah cair dan inilah yang membuat minyak ini disebut minyak makan merah.
 
Karena hanya melewati satu kali penyulingan, maka kandungan beberapa nutrisi dalam minyak makan merah masih tinggi. Dilansir dari aocs.org, minyak ini adalah sumber karoten terkaya, seperti likopen dan beta karoten yang merupakan penghasil vitamin A yang sangat bermanfaat bagi tubuh kita.

Selain itu, minyak makan merah ini juga kaya akan anti-oksidan seperti vitamin E isomer dan pitosterol sehingga minyak ini pun sering digunakan dalam produk perawatan kulit dan untuk kesehatan lainnya.

Bagi kebanyak masyarakat Indonesia, minyak makan merah ini memang belum populer, namun di beberapa negara sudah banyak digunakan.

Perusahaan minyak nabati di luar negeri, seperti Desmet Ballestra. Manajer Litbang Desmet Ballestra, Wim de Greyt mengatakan, “Kunci untuk memproduksi minyak makan merah adalah dengan menghilangkan bau minyak sawit pada suhu rendah untuk menghindari kerusakan karoten.”

Dengan proses pembuatan yang cukup sederhana, produksi minyak makan merah menjadi langkah pertama hilirisasi yang paling tepat bagi petani sawit karena hal ini berarti skala produksi dan biaya prosesingnya yang diperlukan masih terjangkau dan bisa dilakukan dalam skala home industri.