Warga Lokal Bentrok dengan Brimob Di Kebun Sawit Kabupaten Ketapang

Senin, 30 Mei 2022

KETAPANG, Beritaone.id – Sedang viral video warga lokal bentrok dengan brimob di kebun sawit di Kabupateng Ketapang sebagaimana dilansir dari pontianakpost.

Dalam video berdurasi 2 menit 49 detik tersebut di indikasi adanya seorang warga yang tertembak aparat kepolisian di sebuah kebun sawit perusahan di Dusun Mambuk, Desa Segar Wangi, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang.

Menurut Kades Sekar Wangi, Kecamatan Tumbang Titi, M Thamrin, lokasi keributan tersebut adalah lahan yang sedang bersengketa. Ada warga yang mengaku sebagai pemilik lahan, namun PT. ARRTU mengklaim lahan tersebut bagian dari HGU mereka.

Petani Dharmasraya Kena Potongan Tonase 7% Padahal Harga Beli Sawit Masih Rendah
DPRD Kotawaringin Timur: Pemerintah Perlu Melakukan Intervensi Pasar Guna Memastikan Harga Sawit Rakyat Dalam Batas Kewajaran
 
Dia menjelaskan bahwa permasalah tersebut sudah lama dimediasi oleh pihak desa, namun hingga sekarang belum ada keputusan. “Perusahaan tidak mau menunjukan dokumen, sementara warga siap. Perusahaan mengaku hanya mau mengeluarkan dokumen di pengadilan”, ungkapnya.

Ditambahkan Thamrin bahwa di lahan sengketa seluas 12 hektar itu telah ditanami sawit yang diklaim oleh masing – masing pihak, namun tidak ada kejelasan secara hukum.

“Seharusnya dibuatkan surat pernyataan yang diketahui pihak kecamatan jika kedua belah pihak tidak boleh melakukan aktivitas di atas lahan yang sengketa tersebut sebelum masalah ini selesai. Tetapi masalah itu tidak ada hitam putih. Perusahaan hanya meminta masyarakat berhenti panen dan hanya perusahaan yang melakukan aktivitas pemamenan. Saya membantah karena ini tidak adil. Seharusnya sama-sama tidak panen”, tambahnya.

Secara terpisah Kapolres Ketapang, AKBP Yani Permana, membenarkan mengenai keributan yang terjadi di area perusahaan.

“Awal kejadian anggota brimob sedang patrol dan menemukan sekelompok warga sedang panen massal diduga di wilayah perusahaan, makanya dilakukan upaya pencegahan oleh anggota” ujar Yani, Sabtu (28/5) sebagaimana dilansir dari PontianakPost.

Terkait adanya penembakan warga, Yani menjelaskan bahwa sebelumnya brimob telah melakukan soft approach dengan baik-baik, namun warga melakukan perlawanan. Ada yang mengejar anggota dengan menggunakan senjata tajam bahkan ada warga yang mencoba menarik senjata anggota hingga pelatuk senjata menyentuh tangan anggota dan peluru hampa mengenai punggung korban.

“Itu bukan peluru tajam atau karet, melainkan peluru hampa. Warga yang mengalami luka itu karena kontak dalam jarak dekat” terangnya.

Di tempat terpisah, Ketua Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Kalimantan Barat Indra Rustandi menyatakan keprihatinanya karena ketidakjelasan penyelesaian masalah tanah yang berujung kejadian fisik ini oleh pekebun lokal.

“Prihatin saja permasalahan 12 ha harus berlarut-larut seperti itu. Biasanya kalau masyarakat sudah nekat panen berarti akumulasi kekesalan mereka selama ini belum ada hasil. Seharusnya bukan hanya pihak desa saja tapi harus lebih ke Pemda untuk bantu menyelesaikan masalah sengketa ini” ujar nya.