
PADANG, Beritaone.id – Dalam acara workshop Promosi Digitalisasi dan Hilirisasi Produk Sawit UKMK yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di Padang pada tanggal 30 Maret hingga 1 April 2022 ini, petani sawit asal Kalimantan Utara memperkenalkan inovasi produk turunan kelapa sawit, yakni Mie Misamer.
Mie minyak sawit merah (Mie Misamer) merupakan produk inisiasi Suhendrik, seorang petani sawit, yang diproduksi KOPSA SETARA sebagai koperasi holding Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dan mendapatkan produk favorit peserta selama kegiatan workshop berlangsung.
Hal tersebut disampaikan Suhendrik yang juga Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APKASINDO ketika mengikuti kegiatan di Padang. Menurutnya, mie instan ini merupakan produk pangan terbaru setelah sebelumnya sukses dengan inovasi gula merah dari batang kelapa sawit dan dodol dari buah sawit.
Paradigma Membenci Sawit, Saat Ini Berbalik Ngemis, Itulah Upah Dari RED UE
PKS di Sulsel Turunkan Pembelian TBS Sepihak
“Ide pembuatan mie instan ini karena adanya tren makanan kesehatan. Produk kami tidak menggunakan pewarna dan MSG sehingga higienis serta aman. Tujuannya agar bisa masyarakat yang biasa mengkonsumsi mie instan mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi sambil mengenal kebaikan produk kelapa sawit,” kata Suhendrik.
Perlu diingat bahwa minyak sawit merah kaya akan gizi dan baik untuk kesehatan. Minyak sawit merah mempunyai kandungan vitamin A dan E yang sangat tinggi. Tidak hanya itu, minyak sawit juga mengandung antioksidan tinggi yang dapat membantu pencegahan penyakit kanker, peningkatan daya tahan tubuh, dan mengurangi penuaan dini.
“Manfaat minyak sawit merah bagi kesehatan tubuh di antaranya dapat meningkatkan kesehatan jantung, meningkatkan kesehatan otak, serta mendukung kesehatan mata. Selain bebas pengawet, minyak sawit merah dalam bumbu mie instan memiliki kandungan alfa karoten, beta karoten, dan likopen yang sangat tinggi,” papar Suhendrik.
Menurut Suhendrik, mie instan ini tidak menggunakan telur pengenyal, pewarna, dan penguat rasa MSG dan diproduksi secara higienis dengan dikeringkan menggunakan oven sehingga aman dikonsumsi dan baik bagi kesehatan.
Lebih lanjut Suhendrik mengatakan, proses pembuatan mie instan ini bekerja sama dengan pihak ketiga. Kendati demikian, Covid-19 yang masih masif terjadi di Indonesia berdampak pula pada operasional perusahaan.
“Kendala yang kami hadapi antara keterbatasan permodalan (biaya promosi, pembelian alat produksi, dan bahan baku). Lalu, perizinan yang membutuhkan waktu yang lama dan biaya besar,” ungkap Suhendrik. Namun demikian, KOPSA SETARA akan mengelola agar dapat memproduksi mie ini lebih lanjut.
Selanjutnya, Suhendrik juga memaparkan bahwa KOPSA SETARA sangat terbuka bagi pihak yang ingin berpartisipasi dalam bentuk apapun. “Kita sangat terbuka bagi yang mau ikutan unit usaha mie kita di dalam KOPSA SETARA, cukup menjadi anggota saja, udah bisa membantu sawit sambil menjual mie sehat,” tutup Suhendrik.