
JAKARTA, Beritaone.id – Perjuangan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dalam membuat petani sawit naik kelas dan meningkatkan kesejahteraan petani terus berlanjut, dari Kementerian ke Kementerian terkait, semua untuk satu tujuan yaitu memastikan posisi petani berada pada rel yang benar dan setara .
Kementerian Desa (Kemendes) adalah salah satu kementerian yang berhubungan langsung ke Petani sawit. Untuk membangun komunikasi awal, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Apkasindo Dr. Ir. Gulat ME Manurung, MP., CIMA, didampingi oleh Sekretaris Jenderal Rino Afrino, ST., MM., C.APO, melakukan kunjungan resmi ke kantor Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi di area Kalibata, Jakarta pada hari ini (17/3). Kunjungan Apkasindo ini langsung diterima oleh Wakil Menteri, Budi Arie Setiadi.
Dalam suasana akrab dan santai, DPP Apkasindo menyampaikan apresiasi ke Kemendes atas program Kemendes yang selaras dengan bidang ekonomi, sosial dan lingkungan dan hal ini sangat sesuai dengan konsep sawit berkelanjutan.
“Konsep yang intens dibahas pada pertemuan tersebut adalah konsep Desa Mandiri Sawit, dalam bingkai desa mandiri sawit ini semua ada, dari Hulu sampai Hilir dan semua penduduknya pemegang saham, ini pasti sangat aktual,” kata Gulat.
Ketum DPP Apkasindo ini juga menjelaskan situasi petani sawit yang tak berdaya karena terhempit karena berada di hulu rantai pasok dan sering menjadi korban karena melupakan petani sawit sebagai motor ekonomi desa. “Yang seperti inilah sasaran Desa Mandiri Sawit tersebut,” tegas Gulat.
“Kami ini bukan petani cengeng loh pak. Dulu harga TBS Rp. 1.500,- dan biaya produksi kami sampai Rp.800,-/hektar tapi kami tetap diam dan berkebun saja, sampai sekarang harga Rp.4.000,- dan biaya produksi mencapai hampir Rp.2.000,-/hektar, malah kami dituduh keenakan dan dicemburuin. Padahal yang cemburu itu gak tau bagaimana perjuangan selama ini. Kalau sekarang ya saatnya kami berbicara lah.” terang Gulat kepada Wamen.
Lebih lanjut, Gulat menjelaskan bagaimana petani sawit yang sebagian besar berdomisili di desa, sangat berperan dalam meningkatkan perekonomian desa. ”Kami ini bertani turun temurun di desa, dari jalan desa masih tanah kuning, sampai sekarang sudah ada toko kelontong dan makin banyak penduduk. Semua karena berdagang sawit. Masa iya, kami kena tuduh terus dan kebun kami masih terhukum dengan status kawasan hutan.” ujar Gulat.
Menanggapi hal ini, Wamen Budi Arie sangat senang dengan aspirasi dari laporan lapangan yang disampaikan dan bersedia untuk membuat langkah konkrit demi kemajuan desa sentra sawit agar masyarakat desa khususnya petani sawit, bisa sejahtera. “Pokoknya kita segera koordinasi untuk konsep Desa Mandiri Sawit, ini keren dan aktual,” ujar Wamen.
Menurut Gulat, langkah awal yang bersahaja ini menjadi penyemangat bagi Gulat dan Rino untuk berdiskusi lebih lanjut dengan petani sawit di Indonesia. “Agar dapat membawa rencana konkrit desa mandiri sawit yang dilakukan bersama dengan Kementrian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi” tutup Gulat.