Petani Sawit Mampu Kelola Gambut dengan Prinsip Berkelanjutan

Rabu, 02 Maret 2022

SIAK, Beritaone.id - Koperasi Sawit Jaya yang berlokasi di Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak menjadi salah satu koperasi inovatif yang mengelola kelapa sawit di lahan gambut. Langkah ini dilakukan bukan tanpa alasan, karena Kabupaten Siak menjadi kabupaten dengan lahan gambut terbesar di Pulau Sumatra.

Berdasarkan data 2019, sekitar 57% dari luas wilayah sebesar 8.556 km2 berupa lahan gambut. Dari total kawasan gambut tersebut, 21% di antaranya merupakan lahan gambut, dengan kedalaman 3-12 meter.

Meski berada di lahan gambut, anggota koperasi tidak kehilangan akal untuk mengembangkan pengelolaan kelapa sawit dengan praktik berkelanjutan dan lestari. Koperasi yang telah mendapatkan sertifikat RSPO sejak 2020 ini, melakukan sejumlah langkah pengelolaan lahan gambut, yakni pemetaan kedalaman gambut tahun 2018, pemasangan Alat Pemantau Tinggi Muka Air di kanal dan di blok sebanyak 14 unit, pemasangan Alat Pemantau Subsidensi sebanyak 4 unit, pemasangan Piezometer sebanyak 5 unit, pemasangan Fasilitas Sekat Kanal/bendungan, serta pencegahan kebakaran melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api.
 
Menurut Group Manager Koperasi Sawit Jaya, Afif M. Nurudin, pengelolaan sawit di atas lahan gambut perlu memperhatikan pengelolan air, lantaran air itu adalah sumber makanan bagi sawit, tanpa ada air maka sawit tidak tumbuh dengan baik. Sebab itu tata kelola air di lahan gambut sangat dibutuhkan. Serta ketinggian muka air mesti tetap dijaga kurang 50 cm dari atas tanah.

Tutur Afif, dalam kebun gambut perlu dipasang yang namanya ATMK, subsidensi air dan penentuan penurunan gambut, sehingga setiap tahun bisa diketahui turunnya gambut (subsiden), cara demikian menjadi dasar langkah-langkah atau pengelolaan air itu tidak sampai ambang batas yang tidak disarankan.

“Gambut mempunyai keunggulan dan punya kekurangan sendiri, dalam hal ini bisa dipelajari dan bisa dilakukan dengan tata kelola air yang baik,” katanya.

 Sementara itu menurut Unit Audit Internal Koperasi Sawit Jaya, sekaligus Penyuluh Pertanian Desa, Joko Paryanto, pengaturan tinggi muka air kanal dilakukan oleh Tim NKT setiap Senin, air juga harus dijaga dengan ketinggian 40-70cm.

“Fungsi TMAK untuk mengontrol ketinggian muka air kanal karena harus kita jaga antara 40 sampai 70cm. Sekarang posisi di 50cm jadi masih di posisi aman, kalau lebih dari 70cm kita berusaha masukkan air dari atas, karena di sana ada sekat kanal untuk membagi air, dimasukkan ke setiap kanal yang ada di kebun. Pengaturan TMAK dilakukan oleh tim NKT setiap hari Senin,” katanya.

Kunjungan ke kebun kelapa sawit Koperasi Sawit Jaya dilakukan disela kegiatan ‘Pelatihan Audit Internal untuk ICS Petani Swadaya menuju Sertifikasi ISPO’, yang bekerja sama dengan Mutu Institute. Kegiatan yang digelar di Siak pada 15-17 Februari 2022 ini diikuti 31 orang peserta yang terdiri dari perwakilan Koperasi anggota FORTASBI, LSM lokal dan dinas setempat.
 
“Kami dari FORTASBI melakukan pelatihan ISPO di Siak dengan harapan bahwa ke depan ada juga petani swadaya yang mengelola gambut, yang juga bisa masuk sertifikasi ISPO. Karena sekarang di Indonesia ini adalah lokasi Sawit Jaya dan Beringin Jaya yang mendapat sertifikasi RSPO. Jadi kami berharap nanti dengan teman-teman belajar di sini bisa memahami bagaimana cara mengelola gambut yang baik dengan tentu memperhatikan standar yang lebih berkelanjutan. Hari ini adalah batch pertama, nanti akan ada batch kedua dan ketiga,” ujar Kepala Sekolah Petani FORTASBI, Rukaiyah Rafik.

Meski Koperasi Sawit Jaya telah mendapatkan sertifikat RSPO, pengelolaan kelapa sawit di lahan gambut tetap tidak bisa dilakukan sembarangan. Yang perlu diingat sertifikasi RSPO untuk lokasi gambut hanya untuk sawit yang sudah tertanam, bukan sawit yang belum ditanam, karena gambut sebaiknya bukan untuk tanaman kelapa sawit.

Sementara itu, guna mencegah kebakaran di lahan gambut, Koperasi Sawit Jaya yang memiliki jumlah anggota 194 pekebun dengan luas lahan 260 hektare, juga memiliki Masyarakat Peduli Api yang bekerja sama dengan Manggala Agni dan BRG. Ada 3 orang petugas terlatih di dalam Tim Pengendalian Bahaya Kebakaran Lahan Koperasi Sawit Jaya. Koperasi juga menyediakan sarana pemantauan kebakaran lahan berupa pompa, sarana pengendalian api manual, dan peringatan bahaya kebakaran lahan.