
Zulpen Zuhri
BeritaOne.id - Andi Irawan lahir di Sungai Raya, di tanah besar, di kampung bermarwah.
Sejak Burhan jadi kepala desa, lalu Pak Aziz, Eramzi, Indraputra, Julmi, kini Erwanto duduk di kursi.
Dulu, saat Burhan masih menjabat, PT Alam Sari Lestari berdiri, Tak sampai HGU ke Sungai Raya tanah keramat.
Sebab kami, Sungai Raya tak pernah jadi bagian, tak terlibat tak diundang, hanya ditonton dari kejauhan.
Andi Irawan melihat kegelapan di Sungai Raya Mengapa engkau tak mengikuti hukum negara?
Apakah karena Garuda tak memiliki panah api, atau karena sawi barongsai memikat hati?
Wahai .... tanah sungai raya, apakah amplop merah-putih kalah tebal dari angpau hari suci yang menyilaukan nurani?
Mengapa engkau berpaling dari Tuhan, lalu sujud pada dewa lendir yang palsu dan penuh janji?
Wahai ...... mengapa hatimu beku, kosong, tak peduli? Hanya karena ambisi, karena Pajero dan Ferrari?
Ooooi, kalian yang membela cukong, ingatlah, tanah tak bisa dibungkam selamanya.
Besok kau mati, jasadmu masuk tanah, apa kau kira uang haram bisa beli surga?
Cokelat mahal, manis di etalase toko, namun rakyat lapar tak sanggup membelinya. Kau bela penyerobot, perampas hak petani, zionis berdasi, rakus tak tahu diri.
Di hadapan hukum, kalian akan hina, di mata dunia, takkan ada mulia. Dan kelak di akhirat yang sunyi, azab menanti tak bisa ditangkal lobi-lobi.
Wahai orang beriman, saksikanlah, yang zalim tak hanya melukai kami, tapi menzalimi diri, dan darah dagingnya sendiri, dengan remah uang haram yang mereka banggakan kini.
Rengat, 25 April 2025
Zulpen Zuhri (Wartawan penyair Indonesia)