Logam Beracun Ditemukan di Berbagai Merek Pembalut

Jumat, 12 Juli 2024

Ilustrasi Pembalut

BeritaOne.id - Para peneliti telah menemukan logam beracun, termasuk arsenik dan timbal, di lebih dari selusin merek pembalut wanita atau tampon populer.

Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang produk kebersihan menstruasi yang digunakan oleh jutaan orang Amerika dan dunia.

Studi mereka, yang diterbitkan minggu lalu di jurnal ilmiah Environment International, menambah semakin banyak penelitian tentang bahan kimia yang ditemukan dalam produk pembalut.

Dampak negatif logam berat terhadap kesehatan sudah terdokumentasi dengan baik dan luas, termasuk merusak sistem kardiovaskular, saraf, dan endokrin; merusak hati, ginjal dan otak.

Selain itu. logam berat juga dapat meningkatkan risiko demensia dan kanker serta membahayakan kesehatan ibu dan perkembangan janin.

“Meskipun terdapat potensi besar terhadap masalah kesehatan masyarakat, sangat sedikit penelitian yang dilakukan untuk mengukur bahan kimia dalam tampon,” kata peneliti utama, Jenni Shearston, seorang sarjana postdoctoral di UC Berkeley School of Public Health.

Shearston memimpin tim ilmuwan dari Universitas Columbia dan Universitas Negeri Michigan dalam memeriksa 30 pembalut dari 14 merek dan 18 lini produk, yang tidak mereka sebutkan namanya dalam penelitian tersebut.

Pengambilan sampel mencakup produk dengan daya serap berbeda, terdaftar sebagai produk terlaris oleh pengecer online besar dan di toko-toko di New York City, London, dan Athena antara September 2022 dan Maret 2023.

Para peneliti mendeteksi keberadaan yang jelas dari 16 logam yang mereka cari di dalam pembalut, seperti timbal, arsenik, dan kadmium.

Studi tersebut mengatakan ada beberapa cara logam bisa masuk ke dalam tampon. Bahan mentah seperti kapas dan rayon dapat terkontaminasi oleh air, udara atau tanah selama produksi.

Sementara logam, dalam beberapa kasus mungkin sengaja ditambahkan dalam proses pembuatannya baik untuk pengendalian bau, pigmen atau sebagai zat antibakteri.

Jumlah pasti logam yang terkandung dalam produk pembalut bervariasi, berdasarkan daerah mana tampon tersebut dibeli, apakah terbuat dari bahan organik atau non-organik, dan berdasarkan merek yang dibeli di toko.

“Konsentrasi timbal lebih tinggi pada tampon non-organik, sedangkan arsenik lebih tinggi pada tampon organik,” tambahnya.

“Tidak ada kategori yang secara konsisten memiliki konsentrasi lebih rendah dari semua atau sebagian besar logam.”

Para peneliti mengatakan penelitian ini menandai langkah pertama yang penting dalam mengkonfirmasi keberadaan logam beracun dalam tampon, yang digunakan oleh sekitar 52% hingga 86% orang yang sedang menstruasi di AS.

Namun penelitian ini tidak memberi mereka cukup informasi untuk secara pasti mengaitkan logam tersebut dengan dampak negatif terhadap kesehatan.

Mereka mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan sejauh mana kandungan logam dalam pembalut dapat masuk ke dalam tubuh manusia.

Para peneliti menyerukan tidak hanya penelitian lebih lanjut, tetapi juga peraturan yang lebih kuat.

“Saya sangat berharap produsen diwajibkan menguji produknya terhadap logam, terutama logam beracun,” kata Shearston.

Di AS, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) mengklasifikasikan pembalut sebagai perangkat medis dan mengatur keamanannya.

Namun, tidak ada persyaratan untuk menguji pembalut untuk mengetahui adanya kontaminan kimia, dan FDA hanya merekomendasikan bahwa pembalut tidak mengandung residu pestisida atau dioksin.

Juru bicara FDA Amanda Hils mengatakan pihaknya akan mengevaluasi penelitian ini dengan cermat, dan mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk menjaga kesehatan konsumen.**BrOne-05